Aktivitas Gempa di Pulau Kalimantan Paling Rendah Seindonesia

Kompas.com - 02/09/2019, 23:08 WIB
Ilustrasi Kalimantan Timur, Kalimantan Timur, ibu kota baru Kalimantan Timur ShutterstockIlustrasi Kalimantan Timur, Kalimantan Timur, ibu kota baru Kalimantan Timur

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa Pulau Kalimantan adalah satu-satunya pulau di Indonesia dengan tingkat aktivitas kegempaan relatif paling rendah.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, berkata bahwa meskipun di Pulau Kalimantan terdapat struktur sesar dan memiliki catatan aktivitas gempa bumi, secara umum wilayah Pulau Kalimantan masih relatif lebih aman dibanding daerah lain, seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua, yang memiliki catatan sejarah gempa merusak dan menimbulkan korban jiwa.

Dwikorita menjelaskan, kondisi seismisitas Pulau Kalimantan yang relatif rendah ini berdasarkan sejumlah fakta, di antaranya wilayah Pulau Kalimantan memiliki jumlah struktur sesar aktif yang jauh lebih sedikit daripada pulau-pulau lain di Indonesia.

Baca juga: Ibu Kota Pindah ke Kalimantan Timur, Walhi Khawatirkan Lingkungan dan Warga

Selanjutnya, wilayah Pulau Kalimantan lokasinya cukup jauh dari zona tumbukan lempeng (megathrust), sehingga suplai energi yang membangun medan tegangan terhadap zona seismogenik di Kalimantan tidak sekuat akumulasi medan tegangan zona seismogenik yang lebih dekat zona tumbukan lempeng.

Tidak hanya itu, beberapa struktur sesar di Kalimantan kondisinya sudah berumur tersier sehingga banyak segmentasinya yang sudah tidak aktif lagi dalam memicu gempa.

Tetap perlu antisipasi

Namun demikian, untuk mengantisipasi terjadinya bencana, khususnya di wilayah pesisir Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan, yang berhadapan dengan sumber gempa; masih perlu disusun strategi mitigasi bencana dengan menyiapkan tata ruang pantai agar masyarakat pesisir lebih aman dalam menghadapi ancaman tsunami.

Selain itu, lanjut Dwikorita, konsep evakuasi mandiri dengan menjadikan guncangan gempa kuat sebagai peringatan dini tsunami alami juga menjadi pilihan tepat dan efektif untuk menyelamatkan masyarakat. 

Edukasi evakuasi mandiri dan pelatihan evakuasi (drill) akan disosialisasikan kepada masyarakat di wilayah pantai rawan tsunami. Tujuannya agar mereka memahami bagaimana cara agar selamat saat terjadi gempa bumi dan tsunami.

Baca juga: Ibu Kota Pindah, Walhi Nilai Tidak Selesaikan Sumber Masalah

BMKG sendiri juga sedang menyiapkan sistem monitoring gempa dan langkah-langkah mitigasi gempa bumi dan tsunami yang lebih mumpuni untuk menjaga keselamatan masyarakat dan keberlanjutan perekonomian di calon wilayah Ibukota tersebut.

"BMKG bersama Kementerian atau lembaga lain berupaya meminimalisir sekecil mungkin risiko kebencanaan di wilayah tersebut dengan menyiapkan skenario mitigasi bencana yang tepat, terpadu, dan berkesinambungan," tutur Mohammad Sadly, Deputi Geofisika BMKG.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X