Kebakaran Hutan dan Lahan Terbanyak di NTT, Capai 71.712 Hektar

Kompas.com - 01/09/2019, 18:03 WIB
Hutan dan semak belukar yang ada di sekitar wilayah Kawasan Keselamatan Oprasional Penerbangan (KSOP) Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau terbakar hebat. Bahkan hingga saat ini api belum berhasil dipadamkan seluruhnya, Sabtu (24/8/2019). DOK. PUTRAHutan dan semak belukar yang ada di sekitar wilayah Kawasan Keselamatan Oprasional Penerbangan (KSOP) Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau terbakar hebat. Bahkan hingga saat ini api belum berhasil dipadamkan seluruhnya, Sabtu (24/8/2019).

KOMPAS.com - Musim kemarau panjang yang melanda Indonesia tahun ini mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan sepanjang Januari hingga Agustus 2019, luas hutan dan lahan terbakar mencapai 135.749 hektar.

BNPB mengatakan luas hutan dan lahan terbakar terbanyak di Indonesia dalam kurun tersebut adalah Nusa Tenggara Timur, yakni mencapai 71.712 hektar.

Dalam jumpa pers di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Jumat (30/8), Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) Agus Wibowo menjelaskan, luas hutan dan lahan terbakar terbanyak setelah Nusa Tenggara Timur adalah Riau (30.065 hektar) dan Kepulauan Riau (4.079 hektar).

Baca juga: Kebakaran Hutan Amazon Akibat Deforestasi, Ini Efeknya secara Global

"Kalimantan Timur itu nomor dua se-Kalimantan, bukan nomor dua se-Indonesia. Kalimantan Timur itu 4.430, Kalimantan Selatan 4.670, Kalimantan Tengah tiga ribu, Kalimantan Barat tiga ribu juga. Paling rendah Bengkulu, dua hektar," kata Agus.

Terkait bencana alam, Agus mengungkapkan sepanjang Januari sampai 30 Agustus 2019 terjadi 2.524 kejadian yang mengakibatkan 429 orang meninggal dan hilang, 1.640 orang luka, 3.464.347 orang mengungsi, dan 37.906 rumah rusak.

Dari jumlah tersebut, bencana paling banyak adalah puting beliung (816 kejadian), disusul banjir (647 kejadian), tanah longsor (614 kejadian), kebakaran hutan dan lahan (345 kejadian), kekeringan (60 kejadian), gempa (23 kejadian), gelombang pasang dan abrasi (12 kejadian), letusan gunung api (7 kejadian).

Sedangkan tahun lalu terjadi 2.352 kejadian bencana yang mengakibatkan 760 orang meninggal dan hilang, 2.423 orang cedera, 9.450.130 orang mengungsi, dan 247.143 rumah rusak.

BMKG : Titik Panas Terbanyak Agustus Lalu di Kalimantan Barat

Sementara Kepala Sub Bidang Analisa dan Informasi Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Adi Ripaldi menjelaskan titik panas terbanyak untuk bulan ini terdapat di Kalimantan Barat, yakni tujuh ribu titik panas, disusul Kalimantan Tengah, Riau, dan Nusa Tenggara Timur.

"Perlu kewaspadaan karena kemarau di Sumatera dan Kalimantan masih akan berlanjut 1-2 bulan lagi sehingga bisa jadi angka-angka di pertengahan Agustus belum terlampaui,. Nanti menjelang September merupakan puncaknya titik panas di Sumatera, Kalimantan, itu perlu kita waspadai di satu bulan ke depan," ujar Adi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X