Melihat Potensi Energi Nuklir Sebagai Energi Terbarukan Indonesia

Kompas.com - 23/08/2019, 18:07 WIB
Pakar Fisika Nuklir dan Partikel UI, Terry Mart, terima penghargaan LIPI Sarwono Award, Kamis (22/8/2019). Pakar Fisika Nuklir dan Partikel UI, Terry Mart, terima penghargaan LIPI Sarwono Award, Kamis (22/8/2019).

"Itu negara Amerika dan Eropa kan sudah berpuluh tahun menggunakan nuklir, kita bisa bertanya bagaimana mengatasi dampak nuklirnya. Tapi sebenarnya kalau emisi karbon, nuklir itu paling bersih dari emisi karbon," ujarnya.

Terkait sampah nuklir yang radioaktif, Terry berkata bahwa di masa depan, ada kemungkinan sampah radioaktif bisa diolah kembali menjadi energi terbarukan.

Baca juga: Demi Energi Nuklir yang Aman, Ilmuwan Amati Material Eksotis Matahari

"Kita berharap di 50 tahun mendatang atau lebih, reaktor fusi bisa dioperasikan komersial. Bahan bakarnya ditorium trisium yang radiasinya jauh lebih rendah. Itu seperti proses di matahari," katanya.

Sejauh ini, reaktor nuklir fusi telah bisa dioperasikan dalam skala riset, tetapi belum mampu untuk skala komersial. Targetnya, dalam 50 tahun reaktor fusi akan tersedia secara komersial.

Lalu, jika nantinya Indonesia bisa menggunakan reaktor fusi, maka dampak lingkungannya akan lebih baik dan bersih daripada reaktor nuklir fisi.

"Tapi, ya kita tidak bisa langsung mengoperasikan reaktor fusi jika reaktor yang fisi saja belum pernah mencoba," kata Terry.

Reaktor fisi dan reaktor fusi

Pada saat ini, sudah ada reaktor fisi yang konvensional dan tersedia secara komersial.

Reaktor fisi bekerja dengan menggunakan pemecahan atom sebagai sumber energinya. Dengan memborbardir inti atom menggunakan partikel berat, atom pecah menjadi unsur yang lebih ringan, dan dalam proses itu melepaskan energi yang teramat besar.

Baca juga: Akhir 2019, China Siap Bangun 20 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Pemecahan atom terjadi jika bahan bakar yang ada ditembak dengan neutron. Hasilnya adalah dua neutron, di mana satu neutron menggantikan neutron sebelumnya dan sisanya menjadi fisi kembali. Ini merupakan reaksi berantai sehingga bisa menghasilkan energi secara terus-menerus.

Namun, dalam prosesnya reaktor fisi juga menghasilkan banyak unsur sisa yang bersifat radioaktif dan bisa bertahan hingga ribuan tahun. Inilah yang mebuat limbah nuklir dari reaktor fisi sangat berbahaya.

Nah, reaktor fusi merupakan penggabungan atom-atom dari unsur yang ringan menjadi unsur yang lebih berat. Proses kerjanya, menurut Terry, hampir sama dengan matahari.

Proses fusi menghasilkan limbah berupa Hidrogen 3. Meski juga bersifat radioaktif, limbah ini masih jauh lebih aman daripada limbah fisi.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X