Penelitian Akar Bajakah Bisa Dilanjutkan Dengan Perantara TTO

Kompas.com - 15/08/2019, 19:49 WIB
Jurnalis Kompas TV Aiman Witjaksono mengunjungi lokasi tumbuhan bajakah. Repro bidik layar YouTube Kompas TV Jurnalis Kompas TV Aiman Witjaksono mengunjungi lokasi tumbuhan bajakah.

KOMPAS.com - Hasil uji praklinis bubuk akar bajakah terhadap tumor pada tikus menumbuhkan harapan di antara masyarakat Indonesia yang terkena kanker.

Namun, para ahli berkata bahwa untuk menyatakan suatu produk sebagai obat kanker, produk tersebut harus melewati fase-fase klinis standar internasional yang membutuhkan upaya dan dana yang besar.

Lantas, apakah temuan akar bajakah akan berakhir di sini saja?

Wakil Direktur Indonesia Medical Education Research Institur (IMERI), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI), Prof DR Dr Budi Wiweko SpOG (K) MPH, berkata bahwa untuk dapat melanjutkan penelitian awal dari kedua siswi tersebut diperlukan perantara.

“Setelah heboh begini, lalu banyak yang bertanya, lantas bagaimana nasib penemuan anak-anak cerdas itu? Maka, Technology Transfer Office (TTO) Indonesian Innovation for Health (Innovate) melalui IMERI membuka kesempatan besar untuk dapat membantu mengembangkan penelitian mereka,” ujar profesor yang kerap disapa Iko ini.

Baca juga: Perlu TTO agar Karya Peneliti Indonesia Bisa Segera Dirasakan oleh Masyarakat

IMERI sendiri setiap tahunnya membuka open innovation. Hal ini diperuntukkan bagi semua kalangan mulai dari SMA, S1, S2 hingga S3 yang memiliki penemuan ataupun penelitian yang berpotensi besar bagi kebaikan masyarakat luas.

Para partisipan hanya perlu mendaftarkan gagasan penelitian bidang apapun, terutama bidang kesehatan, agar bisa dilanjutkan dan dilatih.

“Di sini, innovator (para peserta) akan dilatih dan diberikan pemahaman bagaimana mengembangkan risetnya masing-masing,” jelas Iko.

IMERI pun sangat membuka kesempatan bagi kedua siswi yang menemukan akar bajakah untuk kanker payudara itu agar bisa dibina, dilatih dan dibimbing untuk mengembangkan penemuan awal mereka.

Baca juga: Dari Warsito sampai Bajakah, Kenapa Banyak Penelitian Susah Terealisasi?

Iko pun mengakui bahwa akan sangat sulit bagi kedua siswi tersebut untuk melanjutkan fase-fase uji klinis selanjutnya setelah praklinis pada hewan yang mereka lakukan saat ini. Oleh karena itu, penting adanya fasilitator untuk dapat membantu berkomunikasi dengan berbagai pihak lainnya dalam melancarkan target penelitian.

“Sekali lagi, pengujian klinis ini bukan IMERI yang melakukan, tetapi melalui jembatan (TTO) ini diharapkan bisa membantu menemukan industri swasta bidang kesehatan, terutama perusahaan farmasi dan rumah sakit yang sesuai dengan penelitian mereka, untuk melanjutkan fase-fase uji klinis berikutnya,” ujar Iko.

Untuk diketahui, uji klinis obat kesehatan biasanya memakan waktu yang lama, bisa tahunan bahkan puluhan tahun. Namun, tanpa uji klinis, suatu produk tidak bisa diproduksi secara massal dan disebarkan ke masyarakat luas.

Dikarenakan dana yang begitu besar dan waktu yang begitu lama, para pelaku industri pun memiliki banyak pertimbangan sebelum memutuskan akan berpartisipasi aktif atau tidak terhadap inovasi penelitian terkait.

Inilah yang dikatakan Iko menjadi bagian dari tugas TTO, yaitu menjalinkan kesepakatan yang sesuai bagi peneliti, birokrasi bahkan industri.

Baca juga: Untuk Jadi Obat Kanker, Akar Bajakah Harus Melewati Fase-fase Ini

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Menjelajahi Waktu ala Lorong Waktu, Mungkinkah Dilakukan oleh Manusia?

Prof Cilik
Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Bagaimana Situasi ODHA di Tengah Pandemi Corona? Ini Hasil Surveinya

Kita
[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

[VIDEO] Tanya Dokter: Benarkah Kalung Eucalyptus Efektif Tangkal Corona?

Oh Begitu
Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X