Viral Terapi Warna untuk Turunkan Demam, Ini Kata Dokter

Kompas.com - 14/08/2019, 20:06 WIB
Viral, bagian jempol anak-anak diberi warna biru spidol untuk turunkan panas demam.Facebook: Fajar Firmansyah Viral, bagian jempol anak-anak diberi warna biru spidol untuk turunkan panas demam.

KOMPAS.com - Pekan ini, media sosial ramai dengan unggahan seorang anak yang sedang demam dan diberi warna biru pada bagian jempol tangan dan kaki si anak. Konon, pemberian warna itu disebut dengan terapi warna atau sujok yang dimaksudkan untuk meringan penyakit yang diderita sang anak.

Orangtua si anak, Fajar Firmansyah, mengunggah foto tersebut di akun Facebook miliknya pada Sabtu (10/8/2019). Saat ini, foto tersebut telah dibagikan sebanyak 4.449 kali dan dikomentari 1.552 kali oleh pengguna Facebook lainnya.

Menanggapi hal tersebut, dokter spesialis anak dari RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, Catharine Mayung Sambo mengungkapkan bahwa dirinya baru mengetahui adanya metode tersebut.

Tak hanya itu, ia pun belum menemukan dasar ilmiah untuk metode penyembuhan tersebut.

Baca juga: Viral, Foto Jempol Anak Kecil Diwarnai untuk Turunkan Demam Tubuh

"Saya malah baru tahu ada yang begini. Ini tidak ada dasar ilmiahnya dalam dunia kedokteran. Saya barusan cek di Google, dasar scientific-nya juga tidak jelas," ujar dr Mayung saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (13/8/2019).

Selain itu, dalam unggahan Facebook itu, disebutkan bahwa pihak pengunggah lebih memprioritaskan menggunakan terapi warna atau sujok daripada resep obat dari dokter.

Pada poin ini, Mayung mengungkapkan ada alternatif untuk menyembuhkan demam pada tubuh meski tidak mengonsumsi obat.

"Untuk menurunkan suhu tubuh saat sedang demam bisa dengan banyak minum, kompres hangat atau selimutan rapat, dan segera ganti baju lembap dengan yang kering," ujar Mayung.

Tidak bisa digunakan untuk sembuhkan demam

Selain itu, dr Reisa Kartikasari atau dikenal Reisa Broto Asmoro menyampaikan bahwa cara mewarnai anggota tubuh dengan spidol tidak bisa digunakan untuk menyembuhkan demam.

"Enggak bisa. Enggak ada logika medisnya," ujar Reisa kepada Kompas.com, Selasa (13/8/2019).

Sementara, Reisa menjelaskan bahwa demam merupakan suatu reaksi tubuh terhadap penyakit untuk melawan infeksi.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X