Kompas.com - 09/08/2019, 21:00 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

Temuan ini tidak berpengaruh ketika faktor – faktor seperti aktivitas fisik, obesitas dan konsumsi alkohol juga diperhitungkan.

Tidak ada hubungan pula antara cara memasak daging dan risiko kanker payudara. Dr Sadler juga menjelaskan bahwa penelitian ini memang memberikan bukti mengganti daging merah dengan daging unggas dapat mengurangi penyakit kanker payudara.

Perlu diketahui, anggapan mengonsumsi daging merah dapat memicu peningkatan kanker payudara ini bukanlah yang pertama kalinya.

Sebelumnya pada tahun 2014, sebuah studi oleh Harvard School of Public Health menemukan hubungan antara peningkatan konsumsi daging merah pada awal masa dewasa dan peningkatan risiko terkena kanker payudara.

Peneliti mengungkapkan bahwa asupan daging merah yang tinggi pada masa awal dewasa mungkin menjadi faktor terkena risiko kanker payudara.

Para peneliti juga menerangkan bahwa mengganti daging merah dengan kombinasi kacang-kacangan, daging unggas, dan ikan dapat mengurangi risiko kanker payudara.

Baca juga: Terungkap, Daging Putih Juga Tingkatkan Kolesterol Mirip Daging Merah

Tak hanya dua penelitian diatas, sebuah studi pada tahun 2019 yang dilakukan oleh University of Oxford, bahwa mengonsumsi daging olahan, seperti sosis, bacon, dan ham selama empat hari dalam seminggu dapat meningkatkan risiko kanker usus sekitar 20 persen.

Berdasarkan pedoman dari Departemen Kesehatan, siapa pun yang makan lebih dari 90 gram daging merah atau olahan setiap hari, orang tersebut harus menguranginya menjadi 70 gram.

Kendati demikian, World Health Organization (WHO) selaku organisasi kesehatan dunia belum menetapkan bahwa mengonsumsi daging merah dapat sebagai penyebab penyakit kanker payudara pada perempuan.

“Belum ditetapkan sebagai penyebab kanker,” kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) seperti dikutip dari foxnews.com, Jumat (8/9/2019).

Profesor Epidemiologi kanker di Universitas Cambridge, Paul Pharoah, juga menyatakan bahwa hubungan atau korelasi tidak menyiratkan penyebab.

Meskipun daging merah sangat bergizi, mengandung banyak mineral dan vitamin seperti B3, B12, dan B6 serta zat besi dan seng, dalam beberapa kasus daging merah kerap dikaitkan dengan penyakit seperti diabetes dan penyakit jantung.

“Seperti kebanyakan hal, keseimbangan adalah kuncinya. Daging merah dapat menjadi sumber penting protein berkualitas baik dan mikronutrien utama seperti zat besi dan seng, terutama penting bagi wanita pada usia subur,” kata Emma Derbyshire, ahli gizi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Oh Begitu
Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Kita
Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Oh Begitu
Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Oh Begitu
Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Fenomena
Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Fenomena
Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Fenomena
Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.