Jawa Terancam Kehabisan Air Tahun 2040, Apa yang Harus Dilakukan?

Kompas.com - 07/08/2019, 11:55 WIB
Sejumlah ibu-ibu sedang mengisi air bersih dari pipanisasi untuk ke kapung lain ke jerigen di Kampung Taman, Desa Sukamanis, Kecamatan Kadudampit, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (18/7/2018). KOMPAS.com/BUDIYANTOSejumlah ibu-ibu sedang mengisi air bersih dari pipanisasi untuk ke kapung lain ke jerigen di Kampung Taman, Desa Sukamanis, Kecamatan Kadudampit, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (18/7/2018).



JAKARTA, KOMPAS.com – Kajian resmi pemerintah memprediksi, Jawa bakal kehilangan hampir seluruh sumber air tahun 2040.

Mengutip pemberitaan Kompas.com yang bersumber dari BBC News Indonesia hal ini menjadi salah satu alasan di balik wacana pemindahan ibu kota.

Sebanyak 150 juta penduduk di Pulau Jawa diprediksi terancam kekurangan air, termasuk untuk kebutuhan makan atau minum.

Menurut para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), faktor-faktor pemicunya krisis air dari perubahan iklim, pertambahan penduduk hingga alih fungsi lahan.

Lalu, sebagai antisipasi, cara apa yang bisa dilakukan untuk menghemat pasokan air? 

Baca juga: Tahun 2040 Jawa Kehabisan Air, Ratusan Juta Penduduk Terancam

Manajer Kampanye Perkotaan dan Energi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( WALHI), Dwi Sawung mengatakan, upaya yang harus dilakukan adalah menjaga hutan agar tetap hijau dan memperluas hutan.

“Yang perlu dilakukan adalah mempertahankan sedikit hutan yang tersisa di Pulau Jawa, jika memungkinkan bisa diperluas,” ujar Dwi, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (7/8/2019).

Ia juga mengingatkan agar ada upaya membersihkan limbah atau sampah di sungai.

“Membersihkan limbah–limbah di sungai yang ada di Pulau Jawa, sehingga jumlah air bersih yang bisa dikonsumsi akan meningkat,” kata Dwi.

Sebelumnya, seperti diberitakan Kompas.com, peneliti senior LIPI Heru Santoso menyebutkan, curah hujan di Jawa cenderung akan terus menurun sekitar 3 persen karena dampak minimnya ketersediaan air.

Baca juga: Lebih dari 53 Ribu Jiwa di Cianjur Alami Krisis Air Bersih

Selain itu, menurut dia, alih fungsi lahan juga memengaruhi ketersediaan air.

“Perubahan fungsi lahan juga berpengaruh tapi jauh lebih besar pengaruh perubahan iklim. Kalau tidak ada perubahan iklim, jumlah air tetap, tinggal diatur misalnya berapa yang dialirkan untuk penduduk,” lanjut Heru.

Sementara itu, Dirjen Sumber Daya Air di Kementerin PUPR Hari Suprayogi mengatakan, perlu dibangun bendungan untuk menampung air hujan.

Pembangunan bendungan tersebut merupakan kunci ketahanan air.

“Tampungan air harus dibangun untuk memenuhi kebutuhan. Ketahanan air tercapai kalua ada pengawetan air, jawabannya penampungan,” lanjut Hari.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X