Hanya dari Suara, AI Huawei dan RFCx Bisa Deteksi Satwa Langka

Kompas.com - 02/08/2019, 18:06 WIB
Orangutan Sumatera (Pongo abelli) Reipok Rere bergelantungan di kawasan hutan reintroduksi cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Aceh, Selasa (18/6/2019). Dua orangutan Sumatera, Reipok Rere dan Elaine, menghabiskan hampir dua tahun untuk belajar mengurus diri di pusat rehabilitasi dan forest school (sekolah hutan) hingga akhirnya dikembalikan ke alam liar di kawasan hutan cagar alam Jantho. AFP/CHAIDEER MAHYUDDINOrangutan Sumatera (Pongo abelli) Reipok Rere bergelantungan di kawasan hutan reintroduksi cagar Alam Jantho, Aceh Besar, Aceh, Selasa (18/6/2019). Dua orangutan Sumatera, Reipok Rere dan Elaine, menghabiskan hampir dua tahun untuk belajar mengurus diri di pusat rehabilitasi dan forest school (sekolah hutan) hingga akhirnya dikembalikan ke alam liar di kawasan hutan cagar alam Jantho.

SOLOK SELATAN, KOMPAS.com – Sejauh ini, startup yang mendaur ulang ponsel-ponsel lama menjadi perangkat pelindung hutan, Rainforest Connection (RFCx), telah mengumpulkan hampir 100 tahun data bioakustik ( suara alam) dari hutan-hutan di 10 negara dunia, termasuk Indonesia.

Data berharga ini merupakan tambang pengetahuan yang tersembunyi mengenai alam kita, sehingga RFCx pun merasa sayang bila mereka hanya berhenti pada upaya mendeteksi dan mencegah penebangan liar.

Disampaikan oleh Topher White, CEO dan pendiri RFCx, mereka kini sedang berupaya untuk menggunakan data-data tersebut untuk tujuan ilmiah, seperti penelitian ekologi, biologi dan konservasi.

Mereka pun berkolaborasi dengan Huawei untuk membangun sistem pintar yang mampu mendeteksi dan menganalisis suara hewan-hewan yang terancam punah, seperti orangutan, dengan bantuan kecerdasan buatan. Sistem ini tidak hanya akan mengungkap keberadaan hewan-hewan ini, tetapi juga informasi mengenai habitat dan perilaku mereka di hutan.

Baca juga: Tahun 2019, Populasi Orangutan Kalimantan Semakin Kritis

Topher menjelaskan bahwa sistem yang mereka bangun akan dapat menyederhanakan proses penelitian bioakustik.

Pasalnya dalam penelitian bioakustik tradisional, para peneliti tidak hanya kesulitan untuk mengumpulkan data-data suara alam yang begitu besar, proses analisisnya pun memakan waktu yang sangat-sangat lama karena harus secara manual diidentifikasi dan ditandai.

Nah, dalam sistem yang sedang dibangun, RFCx mengajak para pakar untuk bersama-sama menandai suara ribuan spesies yang terdengar pada spectogram, bentuk visual dari data suara yang mereka kumpulkan.

Huawei x RFCx/Huawei Device Indonesia Contoh spectogram dari Rainforest Connection

Spectogram yang sudah ditandai kemudian digunakan oleh para peneliti data Huawei sebagai data latihan untuk membangun permodelan.

Topher meyakini bahwa bila sistem ini telah berjalan, proses penelitian bioakustik bisa disingkat menjadi beberapa minggu atau bahkan beberapa hari saja.

“Ada beberapa peneliti yang bekerja sama dengan kita, bilang bahwa kombinasi AI dengan bioakustik sama pentingnya bagi dunia biologi seperti penemuan mikroskop,” jelas Topher.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X