Kompas.com - 02/08/2019, 12:27 WIB
Kendaraan padat merayap dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGKendaraan padat merayap dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.

KOMPAS.com - Jakarta tengah menjadi sorotan karena polusi udaranya yang terlalu pekat. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga sudah mengeluarkan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 66 Tahun 2019 pada Kamis untuk mengatasi masalah ini.

Jumat (2/8/2019) pukul 10.00 WIB, data AirVisual mengungkap kualitas udara Jakarta pada angka 162 US AQI atau masuk dalam kategori tidak sehat.

Pengukuran AQI AirVisual ini berdasar alat pengukur yang ada di Kedubes AS, Jakarta.

Selain Jakarta, sebenarnya ada beberapa kota besar lain dengan kualitas udara buruk.

Berdasar situs AirVisual pada Jumat (2/8/2019) pukul 10.00 WIB, wilayah Tangerang Selatan, termasuk BSD berada di angka 178 US AQI alias tidak sehat. Rumbai, Pekanbaru di angka 177. Palembang di angka 165, tidak sehat.

Baca juga: Ancaman Polusi Udara Nyata, Picu Risiko Jantung Hingga Kematian Dini

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara untuk kota besar lain seperti Surabaya dan Bandung, masing-masing berada di angka 123 dan 130 US AQI atau tidak sehat untuk kelompok sensitif.

Sejauh ini, kota besar dengan kualitas udara sedang adalah Semarang dan Yogyakarta, masing-masing di angka 99 dan 83.

Namun terkait sumber polutan di masing-masing kota tersebut belum dapat dipastikan. Pasalnya, hingga saat ini belum ada data dari masing-masing kota.

"Memang kita perlu data (sumber polutan) di masing-masing kota dan daerah. Ini memang PR besar kita bersama, dan untuk seluruh Indonesia," ungkap Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Energi Greenpeace Indonesia kepada Kompas.com Kamis malam (1/8/2019).

Bondan berkata, sejauh ini baru ibu kota melalui Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta yang mengeluarkan data sumber polutan. Tercaatat, 75 persen sumber polutan di Jakarta adalah transportasi darat, 9 persen merupakan pembangkit listrik dan pemanas, kemudian pembakaran industri dan domestik masing-masing 8 persen.

Sumber pencemaran udara Jakarta. Sumber pencemaran udara Jakarta.
"Sejauh ini belum pernah ada kota yang published sedetail Jakarta. Minimal kota-kota besar harus punya, seperti Surabaya," imbuh Bondan.

Baca juga: Soal Polusi Udara Jakarta Buruk Saat Malam, Begini Kata BMKG

Menurut Bondan, jika semua daerah di Indonesia sudah memiliki data sumber polutan yang terpercaya maka akan lebih mudah untuk mengukur keberhasilan penanganan polusi udaranya.

"Misalnya data DKI Jakarta tahun ini. Di tahun depan, kita bisa lihat apakah polusi berkurang atau justru bertambah. Kita bisa korelasikan dengan keberhasilan kebijakannya," jelas Bondan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.