Kemarau Kok Suhu Dingin? BMKG Ungkap Penyebabnya Dry Intrution

Kompas.com - 18/07/2019, 07:28 WIB
Ilustrasi kedinginan. Ilustrasi kedinginan.


KOMPAS.com - Pada musim kemarau, sebagian besar wilayah Indonesia merasakan suhu dingin dari malam hingga dini hari, dan ini dianggap lumrah oleh BMKG.

Selain karena pada siang hari Bumi menyerap panas dan malam hari panas dilepaskan, fenomena dry intrusion atau intrusi udara kering juga sangat berpengaruh.

Pada gambar peta Indonesia dengan menggunakan citra satelit untuk mendeteksi water vapour di atmosfer ini, tampak bahwa Jawa dikelilingi oleh warna cokelat.

Baca juga: Inilah 4 Kota di Jawa dengan Suhu Dingin Terparah Menurut BMKG

Citra satelit untuk mendeteksi water vapour di atmosfer. Citra satelit untuk mendeteksi water vapour di atmosfer.
"Warna cokelat ini artinya dry atau kering. Nah inilah fenomena dry intrusion yang mengakibatkan kita sering kedinginan pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau," ungkap Agie Wandala Kepala Sub Bidang Iklim dan Cuaca BMKG, kepada Kompas.com, Rabu (17/7/2019).

Agie menjelaskan, dry intrusion bersifat dingin karena suhu udara di selatan Indonesia saat ini sedang sangat rendah dan pulau Jawa cukup terkena dampaknya.

"Selain itu, saat ini posisi Indonesia sedang mengalami Monsuun Australia. Artinya, massa udara dari selatan dan angin cenderung timuran," imbuh Agie.

Selain itu, kondisi langit cerah tanpa tutupan awan di Jawa saat ini juga dapat
memaksimalkan pancaran gelombang Bumi pada malam hari dan menyebabkan suhu permukaan bumi relatif akan cepat turun dan lebih dingin dari biasanya pada malam hari.

"Jadi selama kemarau akan terjadi kondisi-kondisi di mana suhu pada pagi hari akan terasa dingin, sehingga tidak hanya terjadi di Jakarta atau Bandung tapi juga di sebagian besar pulau Jawa," tutup Agie.

Baca juga: [FENOMENAL] Suhu Dingin di Bandung | Topi Awan Gunung Rinjani | Fenomena Kemarau

Mulyono Rahadi Prabowo, Kepala Deputi Bidang Meteorologi BMKG juga mengatakan, saat tutupan awan lebih sedikit ketika musim kemarau maka panas matahari akan langsung diserap Bumi, sehingga siang hari lebih panas.

"Saat siang, Bumi sifatnya menyerap (panas). Maka suhu Bumi lebih rendah daripada Matahari. Kemudian pada malam hari, suhu Bumi lebih tinggi dibanding Matahari sehingga panas akan dipancarkan atau dikembalikan lagi ke atmosfer," ujar Mulyono dihubungi Kompas.com, Rabu (17/7/2019).

"Ketika Bumi melepaskan panas (di malam hari), suhu di permukaan turun. Itu yang menyebabkan malam lebih dingin," kata dia.

Selain hal itu, faktor elevasi atau ketinggian suatu daerah juga berpengaruh pada suhu dingin.

"Secara topografi, makin tinggi elevasinya makin rendah suhunya," ungkap Mulyono.

Berbeda dengan daerah pesisir, meski mengalami perubahan suhu, penurunannya tidak sedrastis di daerah dataran tinggi. Di dataran tinggi, kemarau hampir selalu disertai suhu dingin saat malam.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X