Mengenal Penyakit Jantung Bawaan, Kelainan Bawaan Paling Umum di Indonesia

Kompas.com - 17/07/2019, 19:28 WIB
Ilustrasi. NikuwkaIlustrasi.

Akibatnya, kalori dari makanan yang seharusnya digunakan untuk bertumbuh malah dihabiskan untuk kerja jantung.

PJB juga bisa membuat anak bernapas cepat ketika tidur. “Mungkin enggak sesak, karena (PJB) belum tentu sampai sesak. Justru kalau sesak itu mungkin bukan dari jantung, tetapi dari pernapasan,” ujar dr Winda.

Anak yang mudah sakit-sakitan karena daya tahan tubuhnya lemah juga harus diperiksakan kesehatan jantungnya.

Selain itu, orangtua juga harus curiga ketika anak berhenti-berhenti ketika menyusu. “Mungkin dia capek sehingga tidak bisa lama menyusu. Itu dikonsultasikan ke dokter anak, nanti dokter anaknya akan merujuk ke dokter jantung,” katanya lagi.

Penanganan PJB dibagi menjadi dua, yakni operasi dan intervensi berupa kateterisasi yang sama-sama bisa dilakukan sejak bayi berusia dua minggu. Untuk menentukan yang mana, dokter jantung anak harus melakukan ekokardiografi terlebih dahulu.

Baca juga: Cegah Thalassemia, Mari Periksa Darah Sebelum Menikah

Namun, penanganan ini harus dilakukan pada saat yang tepat. Dr Winda mengatakan, bila anak sudah menjalani penanganan operasi pada masa yang tepat, maka dia tidak akan ada masalah. Jadi selama dia masa kanak-kanak, dia akan bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik pasca operasi.

Sebaliknya bila terlambat penanganannya, PJB bisa berdampak fatal.

Pada PJB yang tipenya asianotik atau disebabkan oleh lesi tunggal, anak bisa mengalami stunting yang bersifat permanen. Sementara itu, pada PJB yang tipe sianotik atau lebih kompleks atau ditandai dengan mukosa biru, fungsi jantung kanan bisa lama-lama menjadi rusak.

Apalagi bila PJB yang dialami anak adalah Tetralogy of Fallot atau TOF atau kombinasi empat PJB sekaligus, darah anak yang menjadi biru karena darah kaya oksigen dari ventrikel kiri tercampur dengan darah kurang oksigen dari ventrikel kanan membuat daya tahan tubuh berkurang.

Bila TOF terus-menerus dibiarkan, tubuh tidak akan bisa melawan kuman dan nanah pun timbul di otak anak. Anak dengan TOF juga bisa menjadi lumpuh dan stunting.

Itulah sebabnya deteksi dan penanganan PJB harus dilakukan sedini mungkin. Presiden Direktur Philips Indonesia Dick Bunschoten mengatakan bahwa pihaknya mendorong masyarakat untuk mulai megadopsi gaya hidup sehat serta membiasakan deteksi dini untuk mengantisipasi penyakit seperti PJB ini.

"Lewat inovasi teknologi seperti USG, deteksi PJB sejak dini dapat dilakukan. Selain itu, solusi Cath Lab Azurion kami juga membantu intervensi non-bedah yang lebih tidak menakutkan dan tidak meninggalkan luka pada anak," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.