Alasan Antrian Operasi Jantung Anak di Harapan Kita Capai 1.100 Orang

Kompas.com - 17/07/2019, 17:33 WIB
Ilustrasi. NikuwkaIlustrasi.

KOMPAS.com – Antrian operasi jantung anak di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta, saat ini mencapai 1.100 orang.

Hal ini diungkapkan oleh dr Winda Azwani, SpA (K), ahli jantung anak RSAB Harapan Kita dan Ketua Kelompok Kerja Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jaya dalam Forum Diskusi Philips bertajuk “Atasi Penyakit Jantung Anak Sejak Dini” di Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Dr Winda menjelaskan bahwa antrian yang begitu panjang bukan disebabkan oleh keterbatasan kemampuan rumah sakit untuk mengadakan lebih banyak operasi, tetapi keterbatasan layanan perawatan setelahnya.

“Habis operasi kan harus dirawat. Emang ruang rawatnya banyak? Kalau masuk intensive care unit (ICU), emang besok langsung keluar? Enggak. (Jadi) operasinya bisa (dilakukan sekarang), tetapi perawatannya kan perlu tempat tidur, perlu ICU,” ujarnya.

Baca juga: Perih dan Perih, Menjadi Pasien Kanker yang Berobat dengan BPJS

Selagi menunggu antrian operasi jantung, Dr Winda menyarankan orangtua untuk terus mengonsultasikan anaknya ke dokter. Dokter yang dimaksud tidak harus dokter jantung, tetapi juga bisa dokter anak.

“Setelah diketahui sakit jantung, dokter anak bisa merawat sampai waktu kembali lagi. Jadi ke dokter anak saja, tidak harus jauh-jauh ke dokter jantung,” katanya.

“Jadi, selama belum dioperasi yang penting anaknya beratnya nambah dan kalau ada obat, ya diminum. Pada anak penting jantung, diusahakan tumbuh kembang anaknya tercapai seoptimal mungkin, walaupun dia masih nunggu operasi,” jelasnya lagi.

Winda menekankan pentingnya tumbuh kembang yang optimal karena salah satu dampak penyakit jantung bawaan pada anak adalah stunting atau kondisi di mana pertumbuhan anak terhambat.

Baca juga: Penyakit Jantung Bawaan Bisa Terjadi Meski Orangtua Sudah Hidup Sehat

Kerja jantung yang terlalu keras karena berlubang atau terlalu sempit menghabiskan banyak kalori yang diserap dari makanan. Akibatnya, kalori untuk pertumbuhan anak berkurang dan anak mengalami stunting.

Untuk menangani kerja jantung yang terlalu keras, dokter bisa mengatur asupan bayi dan meresepkan obat yang bisa menolong agar jantung anak tidak terlalu capek.

Data yang dikumpulkan oleh Pusat Jantung Nasional Harapan Kita menunjukkan bahwa ada sekitar 20.000 pasien PJB yang membutuhkan penanganan setiap tahunnya. Namun sepanjang 2013-2017, hanya 10 persen yang mendapatkan intervensi baik secara bedah maupun non-bedah per tahunnya.

Sementara itu, data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa 7-8 bayi per 1.000 dilahirkan dengan PJB.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X