Perih dan Perih, Menjadi Pasien Kanker yang Berobat dengan BPJS

Kompas.com - 10/10/2018, 20:06 WIB
Rohayati (58), pasien kanker yang melakukan pengobatan seorang diri. Saat ditemui di RS Dharmais Rabu (10/10/2018), ia melakukan perjalanan dari Balaraja ke Jakarta. Rohayati (58), pasien kanker yang melakukan pengobatan seorang diri. Saat ditemui di RS Dharmais Rabu (10/10/2018), ia melakukan perjalanan dari Balaraja ke Jakarta.

KOMPAS.com – Sampai saat ini, kanker masih menjadi penyakit yang mengerikan bagi banyak orang. Meski tata laksana kanker sudah berkembang pesat di Indonesia, namun masih ada plus dan minus dari pengobatan kanker.

Pada tingkatan layanan kesehatan yang difasilitasi oleh pemerintah, seperti BPJS, pasien mengakui adanya unsur positif dan negatif di dalamnya.

Irwan Maulana (36), misalnya. Pemuda yang mengantar ibunya untuk menjalani pengobatan kanker usus ini mengeluhkan soal antrian pasien yang menggunakan BPJS.

“Kalau pakai BPJS mungkin agak lama ya, kita perlu lebih sabar. Belum lagi kalau setelah kemoterapi kita harus menginap, kadang kamarnya penuh,” ujar Irwan saat ditemui di RS Dharmais, Rabu (10/10/2018).

Baca juga: Melirik Terapi Ginjal Alternatif untuk Tekan Pembengkakan Biaya BPJS

Seorang pasien usia 48 tahun lain yang tidak mau disebutkan namanya juga bercerita bahwa untuk mendapatkan kamar kemoterapi, ia pernah mengantri selama tiga hari.

“Saya pernah mengantri sampai tiga hari untuk dapat kamar. Tapi itu karena rumah sakitnya sedang direnovasi. Biasanya sih, di hari yang sama saya langsung dapat kamar,” ujarnya.

Untuk mendapatkan kamar lebih cepat, ada juga dari pasien yang harus menombok karena kelas kamar yang diampu oleh kartu BPJS mereka penuh.

“Awalnya (saya) enggak pakai BPJS, lalu delapan bulan terakhir pakai BPJS. Nombok, tergantung kelasnya. Saya karena naik kelas dari kelas 2 ke kelas 1, makanya nombok sampai 8 juta untuk satu kali berobat sebulan sekali. Kalau enggak pakai BPJS, 20 juta untuk 3 hari,” kata Ari Kurniawan (27) asal Cibinong yang mengantar ibunya, seorang pasien kanker serviks.

Baca juga: JKN di Titik Jenuh, Ini Saran Dosen Unika Atma Jaya untuk BPJS

Perlunya pasien kanker untuk menginap selama menjalani terapi, dan rujukan dari berbagai rumah sakit daerah untuk pengobatan kanker ke RS Dharmais, membuat banyak pasien kanker dari provinsi lain di Indonesia menumpuk di rumah sakit ini.

Hal ini membuat banyak pasien harus mengeluarkan biaya lebih untuk mencari penginapan atau melakukan perjalanan pergi pulang seperti yang dilakukan Rohayati (58) asal Balaraja.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X