Kompas.com - 11/07/2019, 08:16 WIB
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).

Polusi udara Jakarta dinyatakan sangat buruk. Di wilayah Serpong yang masih relarif hijau, nilai PM 2.5 mencapai 91.3 ppm. Di Jalanan, banyak orang yang berjalan kaki maupun naik motor memakai masker-masker kain murah. Efektifkah masker itu? Bisa membuat kita sehat? Richard E. Peltier, Associate Professor of Environmental Health Sciences, University of Massachusetts Amherst, memberikan pandangannya dalam artikel berikut.

KOMPAS.com - Mereka yang pernah menginjakkan kaki di kota-kota besar di negara berkembang tidak luput menceritakan pengalaman berhadapan dengan polusi udara. Kota-kota seperti New Delhi di India, Jakarta di Indonesia, Accra di Ghana, Kathmandu di Nepal, dan kota-kota lainnya harus bergulat dengan pencemaran udara yang berasal dari knalpot kendaraan dan pembakaran sampah.

Untuk pencemaran udara, perhatian serius yang perlu diberikan kepada konsentrasi partikulat, atau dikenal sebagai PM, yaitu sejenis partikel yang ukurannya jauh lebih kecil dari rambut manusia.

Partikel-partikel ini biasanya diproduksi ketika bahan kimia hasil dari pembakaran bahan bakar bereaksi di atmosfer. Sesudah terbentuk, angin dapat mengangkut partikel berbahaya ini ke tempat dengan jarak yang jauh.

Paparan dari partikulat ini menyebabkan hampir enam juta kematian prematur setiap tahunnya. Sebagian besar kematian ini terjadi ketika paparan PM berujung pada serangan jantung, stroke, atau penyakit paru-paru. Namun banyak orang belum menyadari bahwa polusi udara merupakan penyebab utama. Akibatnya, banyak orang memandang polusi udara sebatas masalah kualitas hidup, bukan sebagai masalah kesehatan global.

Kami pun mempelajari bagaimana polusi udara mempengaruhi kesehatan masyarakat yang dilakukan di laboratorium saya, di Peltier Aerosol Lab, University of Massachusetts Amherst, Amerika Serikat. Penelitian ini berlangsung sejak tahun 2013 hingga 2017, namun kami masih tetap melakukan riset lanjutan terkait dengan penggunaan masker dan isu pencemaran udara lainnya.

Baca juga: Ingin Atasi Polusi Udara Jakarta, BPPT Tawarkan Teknologi Modifikasi Cuaca

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kami menganalisis seberapa efektifnya beberapa jenis masker wajah untuk melindungi pengguna dari tingkat bahaya PM.

Berdasarkanhasil penelitian kami, tidak ada masker yang 100 persen efektif dan masker kain murah yang banyak digunakan banyak di negara berkembang sangat sedikit memberikan perlindungan. Lebih lanjut, penemuan ini juga menyoroti perlunya mengurangi polusi udara dan menyiapkan strategi perlindungan yang lebih baik dengan mendidik masyarakat tentang cara-cara menghindari paparan polusi udara.

Kain atau kertas

Menurut Badan Kesehatan Dunia, 98 persen kota di negara-negara berkembang dan 56 persen negara maju tidak memenuhi standar kualitas udara yang telah ditetapkan organisasi internasional tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

Kita
Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X