Kompas.com - 09/07/2019, 10:28 WIB
Ilustrasi MSG Ilustrasi MSG

KOMPAS.com - Istilah micin saat ini kerap dipakai sebagai pengganti penyebutan penyedap rasa pada makanan.

Pro dan kontra tentang penggunaan micin juga sudah berlangsung lama. Salah satunya, perdebatan mengenai pengaruhnya pada kinerja otak atau tidak.

Apa saja yang perlu diketahui soal micin? Simak rangkuman berikut, dari sejarah, efek, hingga batas aman penggunaannya.

1. Penemuan micin

Micin atau MSG ditemukan oleh Kikunae Ikeda, profesor kimia Universitas Tokyo pada tahun 1908.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengategorikan MSG sebagai makanan aman. Meski demikian, mengonsumsi micin dalam jumlah berlebih juga tak disarankan.

Baca juga: Masak Lezat Tanpa Micin? Begini Caranya Menurut Sains

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

2. Kandungan

Micin mengandung monosodium glutamat yang terdiri dari air, natrium, dan glutamat. Glutamat merupakan zat penting yang dapat mengubah rasa makanan menjadi lebih nikmat.

Zat tersebut juga terkandung dalam susu, keju, daging, ikan, dan beberapa sayuran.

3. Efek

Efek penggunaan micin masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Ada yang beranggapan, monosodium glutamat (MSG) berdampak buruk pada kemampuan kognitif seseorang. Benarkah?

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Hardinsyah mengatakan, lembaga-lembaga kesehatan dunia--The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), hingga Kementerian Kesehatan RI menyatakan MSG aman dikonsumsi.

Menurut dia, anggapan bahwa penyedap rasa bisa berpengaruh pada kerja otak kemungkinan karena kesalahan persepsi atas penelitian yang dilakukan oleh peneliti Washington University, Dr John W. Olney.

Baca juga: Penemuan yang Mengubah Dunia: Micin, Serbuk Penuh Kontroversi

Olney menguji MSG terhadap tikus putih dengan cara menyuntikkannya ke bawah kulit.

Cara ini dikritik dan dianggap tak lazim karena MSG umumnya diasup lewat makanan.

Selain itu, dosis yang diberikan kepada tikus percobaan itu sangat tinggi, dan tak mungkin diterapkan pada manusia.

Hasilnya pun tak mengherankan, karena dosis yang tinggi, maka berdampak merusak otak.

"Dugaan saya (anggapan generasi micin), dari penelitian tikus tadi dikonotasikan, dipelintir, dan jadi mitos. Padahal kita tak mungkin kuat mengasup MSG dengan dosis sangat tinggi," ungkap Hardinsyah di Jakarta, Selasa (23/1/2018).

4. Hubungan dengan kemampuan otak

Seorang dokter, dr Ivena menjelaskan, otak mempunyai banyak syaraf dengan tugas menerima berbagai macam rangsangan.

Saraf yang menerima rangsangan ini disebut reseptor, di mana jumlahnya ada dibagian hipotalamus otak.

Kandungan glutamat dalam penyedap rasa mempunyai banyak reseptor yang ada di hipotalamus otak.

Baca juga: Benarkah Micin Bisa Bikin Lemot? Dokter Menjawab

"Karena itu, efek kebanyakan glutamat di otak bisa membahayakan. Reseptor-reseptor dalam otak jadi terangsang secara berlebihan akibat kadar glutamat yang tinggi. Bila terus-terusan terjadi, alhasil aktivitas reseptor yang berlebihan malah bisa disebabkan kematian neuron," kata Ivena.

Neuron (sel saraf otak) mempunyai peran penting dalam menjalankan fungsi kognitif otak.

Kematian neuron sama artinya dengan fungsi kognitif otak turun dan menyebabkan otak seseorang lemah atau lemot.

5Batasi konsumsi

Penggunaan MSG disarankan tak dalam jumlah banyak. Meski dampaknya tak nampak dalam waktu singkat, jika MSG dikonsumsi setiap hari, semakin lama efeknya akan menumpuk.

MSG dapat digantikan dengan rempah-rempah alami seperti kunyit, jahe, lada, cengkeh, kayu manis, kemiri, dan ketumbar.

Baca juga: Adakah Kebenaran dalam Istilah Generasi Micin?

Menurut Persatuan Pabrik Monosodium Glutamate dan Glutamic Acid Indonesia (P2MI), MSG aman dikonsumsi dalam takaran penggunaan secukupnya.

Penelitan dari Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology Center (SEAFAST Center) IPB pada 2007, konsumsi MSG harian orang Indonesia sekitar 0,7 gram per orang per hari.

Jumlah ini lebih sedikit dari konsumsi MSG di Amerika Serikat kurang dari 1 gram per orang per hari dan Jepang 2 gram per orang per hari. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.