BMKG: Suhu Panas Timur Tengah Tidak Berimbas di Wilayah Indonesia

Kompas.com - 01/07/2019, 12:23 WIB
Ilustrasi suhu ekstrem. Equinox diyakini banyak orang jadi dalang meningkatnya suhu di Indonesia. Ilustrasi suhu ekstrem. Equinox diyakini banyak orang jadi dalang meningkatnya suhu di Indonesia.


KOMPAS.com - Saat ini negara di Timur Tengah dan Eropa sedang mengalami suhu panas ekstrem. Beruntung, fenomena ini tidak berimbas pada Indonesia.

Berdasarkan catatan pengamatan suhu udara permukaan sepanjang Juni 2019 oleh stasiun-stasiun pengamatan cuaca di Iraq, Kuwait, dan Arab Saudi yang terkumpul di database Badan Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan, suhu maksimum tertinggi tercatat di Stasiun Basrah-Hussein (Iraq) sebesar 50,4 derajat Celsius pada 10 Juni 2019 dan di Stasiun Mitribah (Kuwait) tercatat suhu mencapai 51,4 derajat Celsius pada 10 Juni 2019.

Suhu panas yang dirasakan di Timur Tengah akibat dari perluasan gelombang panas (heatwave) yang menyerang India beberapa minggu lalu.

Gelombang panas dirasakan India, Pakistan, Afghanistan, Turkemistan, Iran dan Saudia Arabia. Suhu permukaan di wilayah-wilayah yang terpapar heatwave tersebut terukur bervariasi antara 34-51 derajat Celsius.

Tidak hanya di negara-negara di Timur Tengah, tetapi di Perancis pun mencatat suhu panas mencapai suhu 34 derajat Celcius di Paris dan Lyon.

Baca juga: 5 Cara Hadapi Gelombang Panas dan Penjelasan Ilmiahnya

Data Historis

Berdasarkan pola klimatologis, wilayah Timur Tengah selalu mengalami suhu ekstrem pada periode Juni, Juli, dan Agustus (JJA).

Suhu tinggi pada periode JJA ini akibat  posisi gerak semu tahunan matahari yang berada di wilayah Belahan Bumi Utara.

Kondisi ini juga didukung oleh faktor geografis wilayah tersebut yang terletak pada Lintang 20-30 dan umumnya memiliki iklim gurun karena menjadi lokasi subsidensi (massa udara turun pada sirkulasi global).

"Hal ini membuat daerah tersebut memiliki kandungan uap air relatif lebih sedikit dibandingkan wilayah pada lintang lain," tulis BMKG dalam keterangan pers yang diterima Kompas.com, Senin (1/7/2019).

Berdasarkan data pengamatan cuaca Stasiun Al Amara, Iraq, kejadian suhu tinggi melebihi 50 derajat Celsius cukup sering terjadi di Irak selama kurun waktu 10 tahun terakhir.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X