Mengenal Herawati Sudoyo, Peraih Penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Kompas

Kompas.com - 28/06/2019, 19:30 WIB
dr Herawati Sudoyo, MS, PhD menjadi salah satu dari empat penerima Habibie Award 2008, penghargaan bagi para tokoh yang membuat terobosan dalam ilmu pengetahuan. Ia dinilai telah meletakkan dasar pemeriksaan DNA forensik untuk identifikasi pelaku bom bunuh diri. KOMPAS/LASTI KURNIAdr Herawati Sudoyo, MS, PhD menjadi salah satu dari empat penerima Habibie Award 2008, penghargaan bagi para tokoh yang membuat terobosan dalam ilmu pengetahuan. Ia dinilai telah meletakkan dasar pemeriksaan DNA forensik untuk identifikasi pelaku bom bunuh diri.

KOMPAS.com - Indonesia punya banyak nama ilmuwan yang berprestasi, salah satunya adalah Herawati Supolo Sudoyo. Herawati adalah seorang profesor biologi molekuler yang kerap jadi pembicara di berbagai forum ilmiah tingkat dunia.

Dengan segala prestasinya, Herawati tahun ini mendapat penghargaan Cendekiawan Berdedikasi 2019 dari Kompas. Kompas sendiri telah mengikuti sepak terjang perempuan kelahiran Pare, Jawa Timur itu selama 4 tahun terakhir, terutama kiprahnya di Lembaga Eijkman.

Sebelum terjun ke Lembaga Eijkman, Herawati punya catatan perjalanan akademis yang panjang. Dia merupakan lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang memutuskan untuk mengajar di almamaternya.

Tuntutan pekerjaan membuat Herawati melanjutkan studi doktoral di Universitas Monash Australia pada 1985 di bidang bilogi molekuler. Bidang tersebut dianggap menjadi pondadi berbagai kajian terapan di bidang kedokteran hingga bioteknologi.

Baca juga: 4 Kartini Intelek Mendunia, Salah Satunya Ungkap Pelaku Bom Bunuh Diri

Selama studi doktoralnya, Herawati terpilih untuk terlibat dalam proyek penelitian baru tentang mitokondria manusia yang sedang dibangun oleh Universitas Monash.

Proyek tersbeut dipimpin oleh Profesor Sangkot Marzuki, seorang ilmuwan Indonesia yang selama 20 tahun mengajar di Universitas Monash.

Kiprah di Lembaga Eijkman

Ketika Sangkot Marzuki dipanggil pulang ke Indonesia untuk menghidupkan Lembaga Eijkman oleh BJ Habibie pada 1992, Herawati diajak bergabung.

Di lembaga Eijkman inilah Herawati berkiprah dengan membentuk kelompok ilmiah dan laboratorium. Kelompok buatannya ini kemudian menjadi Pusat Genom Indonesia pada 2018.

Pusat penelitian ini dibentuk Herawati yang tertarik untuk memahami hubungan antara keanekaragaman genetika manusia dan penyakit.

Herawati berasumsi, setiap etnis memiliki kerentanan dan daya tahan terhadap penyakit tertentu. Untuk itu, dia berupaya memetakan struktur genetika populasi.

Dengan peta genetika ini, diharapkan setiap etnis mendapatkan pengobatan yang presisi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X