Jakarta Masih Kekurangan Ruang Terbuka Hijau, Ini Penjelasan Ahli

Kompas.com - 27/06/2019, 20:04 WIB
Pemandangan pepohonan dan gedung bertingkat terlihat dari Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (8/11/2017). Menurut data Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, luas ruang terbuka hijau (RTH) hanya 9,98 persen dari 30 persen yang seharusnya dimiliki oleh DKI Jakarta. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGKOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Pemandangan pepohonan dan gedung bertingkat terlihat dari Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (8/11/2017). Menurut data Dinas Kehutanan, Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, luas ruang terbuka hijau (RTH) hanya 9,98 persen dari 30 persen yang seharusnya dimiliki oleh DKI Jakarta. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG

KOMPAS.com – Jakarta merupakan kawasan yang memiliki luasan daerah sangat besar, yang menyediakan wadah bagi segala aktivitas ekonomi tiap warganya. Kondisi ini didukung oleh beragam infrastruktur yang telah tersedia atau tengah dibangun untuk menopang aktivitas ini.

Namun, jika kita memandang Jakarta dari ketinggian, akan sangat tampak adanya kontras antara gedung perkantoran yang tinggi menjulang dengan lahan hijau yang berada di celah-jelah jalanan besar dan gedung-gedung tinggi tersebut.

Lantas, apakah ruang hijau di Jakarta saat ini sudah cukup? Atau justru sangat jauh dari kelayakan yang dibutuhkan?

Menurut WRI Indonesia, keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta masih belum memadai.

Baca juga: Alasan Kita yang Tinggal di Kota Juga Harus Peduli Hutan

“Saat ini baru sekitar 14,9 persen dari ruang terbuka di Jakarta merupakan Ruang Terbuka Hijau,” ujar Dean Yulindra Affandi, Koordinator Sains dan Penelitian WRI Indonesia, saat ditemui di Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Angka ini merupakan suatu peningkatan bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, luas Ruang Terbuka Hijau ini masih belum cukup untuk mengimbangi luasan total Jakarta.

“Jakarta butuh setidaknya 30 persen dari areal perkotaan untuk mampu menyerap udara yang berpolusi dan memegang fungsi penyerapan air, juga sebagai penyedia tempat rekreasi bagi warga,” lanjut Dean.

Namun, bukan hanya ruang hijau saja yang dapat mengurangi polusi Jakarta. Pepohonan yang menaungi koridor pejalan kaki juga sebenarnya dapat berkontribusi dalam penyerapan gas karbon dioksida yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, dan melepas oksigen yang dapat menyegarkan atmosfer Jakarta.

Baca juga: Memaknai Kelestarian Hutan dari Perspektif Berbagai Agama di Indonesia

Untuk itu, perlu dilakukan studi khusus untuk mencari tahu dan menentukan jenis pepohonan apa saja yang cocok untuk ditanam dan lokasi mana yang baik untuk menjadi media tumbuhnya.

Dean memberikan contoh bahwa pohon mangga sanggup menyerap sekitar 445 kilogram gas karbon dioksida per tahunnya, sedangkan durian "hanya" mampu menyerap sekitar 220 kilogram gas CO2 setiap tahun.

Hal ini dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan bagi pemerintah, pembuat kebijakan dan tata kota untuk dapat mengurangi tingkat polusi di Jakarta yang kian hari semakin parah.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X