Persoalan Iklim dan Penangkalnya

Kompas.com - 24/06/2019, 18:11 WIB
Petugas BMKG menunjukkan area pergerakan badai Siklon Tropis Cempaka di Laboratorium BMKG Kemayoran, Jakarta, Rabu (29/11/2017). Pihak BMKG merilis peringatan level siaga cuaca ekstrem pergerakan Siklon Tropis Cempaka diperkirakan menjauh ke arah selatan pulau Jawa hingga awal Desember mendatang. ANTARA FOTO/RIVAN AWAL LINGGAPetugas BMKG menunjukkan area pergerakan badai Siklon Tropis Cempaka di Laboratorium BMKG Kemayoran, Jakarta, Rabu (29/11/2017). Pihak BMKG merilis peringatan level siaga cuaca ekstrem pergerakan Siklon Tropis Cempaka diperkirakan menjauh ke arah selatan pulau Jawa hingga awal Desember mendatang.

ADA beberapa bukti dampak perubahan iklim terjadi di Indonesia, salah satunya peningkatan suhu dan menyebabkan tren cuaca ekstrem.

Akibatnya, produksi beras di sebagian wilayah selatan khatulistiwa, seperti Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan menurun sebanyak 1,8 juta hingga 3,6 juta ton (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2017).

Pada sisi lain, kenaikan suhu secara global telah menyebabkan kenaikan muka air laut akibat mencairnya es di kutub.

Terbukti, menurut Simple Ocean Data Assimilation (SODA) telah terjadi peningkatan muka air laut secara signifikan di Indonesia sejak tahun 1993, dari sebelumnya hanya 1,6 mm menjadi rata-rata 7 mm per tahun.

Banyak kajian yang menyebut perubahan iklim disebabkan oleh produktivitas karbon yang berlebih akibat penggunaan energi fosil. Alih-alih memanfaatkan potensi melimpah energi baru terbarukan yang bersumber dari panas bumi, air, bioenergi, angin, surya dan laut, kebijakan pemerintah Indonesia justru masih akan mengandalkan penggunaan batu bara dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

Padahal, tidak hanya memproduksi emisi karbon, pemanfaatan batu bara juga merusak lingkungan dan rentan mendeforestasi hutan.

Oleh karenanya, butuh alternatif cara untuk dapat meminimalkan dampak dari produksi karbon yang dihasilkan, salah satunya dengan cara melestarikan lahan gambut. Karena, selain tempat perlindungan keanekaragaman hayati, keberadaan lahan gambut mampu menyerap dan menyimpan emisi karbon.

Sebaliknya, kerusakan lahan gambut justru semakin mempercepat proses perubahan iklim. Analisis World Resources Institute (WRI) menunjukkan bahwa pengeringan satu hektar lahan gambut di wilayah tropis akan mengeluarkan karbon setara dengan membakar lebih dari 6.000 galon bensin setiap tahun.

Dengan perannya, keberadaan lahan gambut yang hanya ada di beberapa negara di dunia wajib dilestarikan.

Pengelolaan yang keliru kerap membuat luas ekosistem lahan gambut semakin berkurang dan tidak jarang menyebabkan kebakaran hebat.

Berdasarkan catatan pantau gambut, kebakaran hutan hebat terjadi pada 1997 dan melepaskan emisi setara dengan produksi karbon dioksida yang dihasilkan oleh 2.488 pembangkit listrik tenaga batu bara selama setahun.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X