NASA Siapkan "Tameng Bunga Matahari" untuk Berburu Planet Alien

Kompas.com - 20/06/2019, 12:24 WIB
Ilustrasi ini menunjukkan geometri teleskop ruang angkasa yang disejajarkan dengan Starshade, teknologi yang digunakan untuk memblokir cahaya bintang untuk mengungkap keberadaan planet yang mengorbit bintang tersebut. NASA / JPL-Caltech Ilustrasi ini menunjukkan geometri teleskop ruang angkasa yang disejajarkan dengan Starshade, teknologi yang digunakan untuk memblokir cahaya bintang untuk mengungkap keberadaan planet yang mengorbit bintang tersebut. NASA / JPL-Caltech

KOMPAS.com - Ditemukannya ribuan eksoplanet memicu NASA membuat teleskop khusus pemburu planet alien yang diberi tambahan Starshade.

Starshade pada dasarnya merupakan bidang datar raksasa mirip bunga matahari mekar yang terbang terpisah dengan jarak sekitar 40 ribu kilometer di depan teleskop.

Tameng bunga ini berguna untuk menghalangi cahaya bintang sehingga memungkinkan teleskop dapat segera menangkap keberadaan planet alien sekecil Bumi dengan jelas.

Dengan menggunakan metode pemblokiran cahaya bintang, ahli percaya dapat mempelajari lebih tentang atmosfer suatu planet dan menemukan tanda-tanda kehidupan di angkasa luar.

Baca juga: NASA Bersiap Uji Coba Bahan Bakar Roket Ramah Lingkungan

Nantinya teleskop dengan cermin primer berdiameter 2,4 meter bernama Wide Field Survey Telescope (WFIRST) akan dibenamkan di dalam Starshade ini. Inilah yang akan melakukan metode pemblokiran cahaya alias coronagraph.

"Jarak yang kita bicarakan untuk teknologi Starshade agak sulit untuk dibayangkan. Jika Starshade diperkecil maka teleskop akan berukuran seperti penghapus pensil dan akan berpisah dengan 'tameng bunganya' pada jarak 100 kilometer," ujar Teknisi Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, Michael Bottom dilansir Live Science, Selasa (18/6/2019).

"Coba bayangkan kedua benda itu mengambang di ruang angkasa. Keduanya melakukan tarik menarik akibat gravitasi dan kekuatan lain. Namun kami harus memastikan keduanya tetap sejajar dengan pergeseran tak lebih dari 2 milimeter," imbuh Bottom.

Bila tameng bunga dan teleskop tidak berada di posisi yang pas, maka ada cahaya bintang akan menerobos masuk dan menghalangi "penglihatan" teleskop dalam mencari planet alien.

Untuk mengetahui apakah ada pergeseran atau tidak, Bottom dan tim memasang kamera yang dapat mengenali kapan pola terang-gelap muncul.

Bottom merancang program komputer untuk menguji apakah teknik ini akan berhasil, dan hasilnya menggembirakan.

"Kita bisa merasakan pergeseran satu inci," ujar Bottom.

Sementara itu, rekan teknisi JPL Thibault Flinois dan timnya mencari algoritma dari program Bottom untuk menentukan kapan Starshade  secara otomatis menembakkan pendorongnya untuk mempertahankan keselarasan.

Secara keseluruhan, pekerjaan ini  menunjukkan misi starshade layak secara teknologi. Setidaknya memungkinkan tameng besar dan teleskop ruang angkasa selaras pada jarak hingga 74.000 kilometer.

"Ini bagi saya adalah contoh yang bagus tentang bagaimana teknologi ruang angkasa menjadi semakin luar biasa dengan membangun keberhasilan sebelumnya," Phil Willems, manajer kegiatan Pengembangan Teknologi Starshade NASA, mengatakan dalam pernyataan yang sama.

Baca juga: NASA Temukan Logo Starfleet dari Film Serial Star Trek di Mars

Meski demikian, misi Starshade belum sepenuhnya disetujui karena harus melengkapi syarat terakhir terkait formasi penerbangan agar proyek ini layak diluncurkan ke luar angkasa.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X