Kenapa Terjebak Antrean di Puncak Everest Bisa Bikin Meninggal?

Kompas.com - 25/05/2019, 17:05 WIB
Antrean padat pendaki gunung di sebuah area yang dikenal sebagai zona kematian menuju puncak Gunung Everest. (AFP/PROJECT POSSIBLE) Antrean padat pendaki gunung di sebuah area yang dikenal sebagai zona kematian menuju puncak Gunung Everest. (AFP/PROJECT POSSIBLE)

KOMPAS.com – Salah satu berita paling populer di Kompas.com sejak kemarin adalah tentang meninggalnya lima orang yang terjebak antrean pendaki menuju puncak Everest.

Salah seorang korban yang bernama Nihal Baghwan terjebak dalam kemacetan selama 12 jam dan akhirnya meninggal ketika dibawa turun ke Camp 4.

Banyak orang yang kemudian kebingungan, bagaimana terjebak antrean di Everest bisa menyebabkan kematian?

Dilansir dari Live Science, Jumat (24/5/2019); salah satu faktor terbesar dari insiden ini adalah ketinggian Everest itu sendiri yang mencapai 8.848 meter di atas permukaan laut.

Baca juga: Antrean di Zona Kematian Menuju Puncak Everest Tewaskan 5 Pendaki

Menurut Dr Andrew Luks, seorang profesor di Divisi Pengobatan Jantung, Penanganan Kritis dan Tidur di University of Washington School of Medicine; 77 persen pendaki akan mulai merasakan mabuk gunung akut (AMS) pada ketinggian 2.500 meter.

Walaupun merupakan salah satu bentuk teringan dari penyakit gunung akut,  AMS dapat menyebabkan gejala mual, muntah, lemas, hingga pening.

Oleh karena itu, Luks menyarankan para pendaki untuk menjaga stamina dan menaii ketinggian di atas 3.000 meter perlahan-lahan. Para pendaki juga bisa meminum acetazolamide untuk mencegah AMS.

Bila AMS sudah mulai bergejala, Luks meminta pendaki untuk segera berhenti dan beristirahat. Bila kondisinya tidak membaik setelah satu atau dua hari, segera turun untuk meminta pertolongan medis.

Baca juga: 119 Petugas KPPS Meninggal, Ini yang Terjadi pada Tubuh saat Kelelahan

Pasalnya, AMS bisa berlanjut menjadi high-altitude cerebral edema (HACE), di mana otak mengalami pembengkakan, dan high-altitude pulmonary edema (HAPE), di mana cairan menumpuk di paru-paru.

Kedua kondisi ini memang langka, tetapi HAPE dan HACE bisa menyebabkan koma hingga kematian.

Dikombinasikan dengan kedinginan dan kelelahan, seseorang yang sudah mengalami AMS bisa meninggal bila terjebak antrean menaiki dan menuruni gunung.

Luks mengatakan, semakin lama seserang berada pada ambang batas ketinggian yang membuat mereka sakit, semakin besar risiko yang mereka hadapi. Dan apabila orang tersebut tidak bisa turun karena antrean panjang di gunung, maka mereka juga akan kesulitan mendapatkan terapi yang tepat.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Ilmuwan Temukan Petunjuk Sumber Energi Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Hati-hati Cuaca Ekstrem di Indonesia Masih Berpotensi 3 Hari ke Depan

Fenomena
Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Unik, Tenyata Seekor Gajah Bisa Melahap 150 Kg Pakan dalam Sehari, Kok Bisa?

Fenomena
Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Infeksi Otak Langka dari Amoeba Pemakan Otak Ditemukan di Florida

Oh Begitu
Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Fenomena
CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

CDC China: Virus Flu Babi Baru Tidak akan Jadi Pandemi Secepat Itu, Ini Penjelasannya

Fenomena
Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Dalam 10 Hari di India, 147 Orang Meninggal Dunia Akibat Serangan Petir

Fenomena
Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Kasus Baru Covid-19 di Amerika Serikat Meroket, Tapi Kenapa Kurva Kematian Rata?

Fenomena
239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

239 Ahli Sebut Virus Corona Menyebar di Udara, WHO Sangkal Bukti

Kita
Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Kementan: Roll On dan Inhaler Eucalyptus Sudah Terdaftar Badan POM

Oh Begitu
Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Kalung Aromaterapi Eucalyptus Kementan, Mengapa Belum Diuji Klinis?

Oh Begitu
Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Kementan: Kalung Aromaterapi Bukan Antivirus, tapi Aksesori Kesehatan

Oh Begitu
Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Studi: Virus Mencuri Kode Genetis Manusia, Ciptakan Gen Campuran Baru

Oh Begitu
Es Berwarna Pink Muncul di Pegunungan Alpen, Fenomena Apa Itu?

Es Berwarna Pink Muncul di Pegunungan Alpen, Fenomena Apa Itu?

Oh Begitu
Sebagian Indonesia Lebih Dingin Bukan karena Aphelion, tapi Pola Angin

Sebagian Indonesia Lebih Dingin Bukan karena Aphelion, tapi Pola Angin

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X