Pendaki Dengar Suara Misterius di Gunung Everest, dari Mana Asalnya? - Kompas.com

Pendaki Dengar Suara Misterius di Gunung Everest, dari Mana Asalnya?

Kompas.com - 22/12/2017, 12:04 WIB
Everest AFP/ ROBERTO SCHMIDT Everest

KOMPAS.com -- Menggapai puncak Gunung Everest tentu menjadi impian para pendaki di seluruh dunia. Namun tahukah Anda bahwa selain kondisi alamnya, pendaki perlu mewaspadai untuk menjadi gila sementara di gunung tertinggi dunia ini?

Beberapa pendaki mengaku mendengar suara-suara misterius di ketinggian tertentu, dan asal muasal suara itu masih belum terjelaskan hingga sekarang.

Namun, sebuah penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal Psychological Medicine mungkin telah menemukan kuncinya.

Pada ketinggian yang ekstrem, pendaki gunung ternyata sering mengalami psikosis, sebuah gangguan mental di mana seseorang tidak lagi berhubungan dengan kenyataan.

Gejala psikosis ini meliputi halusinasi dan delusi yang memicu para pendaki menjadi bertingkah aneh untuk beberapa saat.

Baca juga: Mengapa Everest Begitu Mematikan? 

"Gunung memang sangat indah, tapi kami tidak berharap gunung bisa membuat kita gila," kata Dr Hermann Brugger, kepala Institute of Mountain Emergency Medicine di Eurac Research Bolzano, Italia.

Psikosis yang terjadi di gunung ini disebut dengan Psikosis Ketinggian Terisolasi. Gejala ini, menurut Brugger, mungkin terjadi pada ketinggian lebih dari 7.000 meter di atas permukaan laut.

Pendaki gunung dan ahli anestesi Dr Jeremy Windsor pernah mengalaminya saat mendaki Gunung Everest pada tahun 2008.

Dia mengalami kejadian aneh. Di ketinggian lebih dari 8,2 kilometer, Windsor mengaku bertemu dengan seorang pria bernama Jimmy.

Jimmy menemaninya sepanjang hari, menyemangatinya, dan kemudian lenyap tanpa bekas.

Hingga sekarang, dokter umumnya mengira jika psikosis ini merupakan gejala penyakit ketinggian yang terjadi akibat kekurangan oksigen yang dialami di dataran tinggi dan bisa memicu penumpukan cairan yang berpotensi mematikan paru-paru atau otak.

Namun, analisis yang dilakukan oleh Windsor dan rekan-rekannya menemukan bahwa keadaan Psikosis Ketinggian Terisolasi ini berbeda dengan penyakit ketinggian.

Untuk mencapai kesimpulan tersebut, peneliti menganalisis data dari 83 peristiwa psikosis di dataran tinggi yang dikumpulkan dari literatur gunung Jerman.

Baca juga: Gunung Raksasa Baru Ditemukan, Tingginya Setengah Everest 

Peneliti juga mencoba mensimulasikan kasus psikosis ini dengan menempatkan relawan di kamar yang dikondisikan seperti berada di ketinggian ekstrem, seperti misalnya dengan oksigen rendah dan tekanan udara yang rendah

Hasilnya, mereka menemukan kalau relawan mendengar suara-suara. Namun, gejala yang terjadi ini tidak berhubungan dengan penyakit ketinggian atau penyakit jiwa yang diderita pendaki di masa lalu.

"Mereka sehat dan tidak rentan terhadap penyakit tersebut," kata Brugger.

Sayangnya, sampai saat ini peneliti belum yakin dengan penyebabnya. Psikosis ini bisa jadi karena kekurangan oksigen atau tahap awal pembengkakan di area otak tertentu seperti yang terjadi pada gejala penyakit ketinggian, atau mungkin juga penyebabnya sama sekali bukan karena ketinggian.

"Seperti yang kita tahu, kurangnya kontak sosial dan kesiapan secara keseluruhan dalam waktu yang lama dapat mendorong timbulnya halusinasi," jelas Brugger.

Pemulihan instan

Gejala psikosis ini rupanya akan lenyap sama sekali setelah pendaki gunung meninggalkan ketinggian ekstrem yang menjadi zona bahaya. "Mereka benar-benar pulih," kata Brugger.

Meski pulih dengan instan, psikosis ketinggian terisolasi ini berpotensi menimbulkan kesalah yang berakibat fatal.

"Penting agar para pendaki menyadari risiko ini, (mereka) harus tahu benar bahwa halusinasi tidak nyata dan menemukan beberapa tindakan penanggulangan selama pendakian mereka," saran Brugger.

Penelitian lebih lanjut mengenai gangguan ini akan membantu mengungkap mengenai psikosis ini.

Maret mendatang, para peneliti berencana bekerja sama dengan dokter Nepal untuk mengetahui seberapa sering pendaki mengalami Psikosis Ketinggian Terisolasi.

"Kami akan menggunakan kuisioner untuk mengumpulkan data dari pendaki yang turun dari Everest," tambah Brugger.


EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar
Close Ads X