Kompas.com - 21/05/2019, 18:33 WIB
Situasi Kota Palu yang porak poranda akibat bencana gempa bumi, likuifaksi, dan tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9/2018). Ditjen Bina Marga menurunkan Tim Satgas Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami Palu-Sigi-Donggala untuk membantu pemulihan infrastruktur wilayah. Dok. Humas Ditjen Bina Marga Kemen PUPRSituasi Kota Palu yang porak poranda akibat bencana gempa bumi, likuifaksi, dan tsunami yang terjadi pada Jumat (28/9/2018). Ditjen Bina Marga menurunkan Tim Satgas Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami Palu-Sigi-Donggala untuk membantu pemulihan infrastruktur wilayah.

KOMPAS.com - Tsunami yang menerjang Palu akibat gempa bumi di Donggala telah 8 bulan berlalu. Meski begitu, masih banyak peneliti dunia yang penasaran dengan tsunami tak biasa tersebut.

Salah satu peneliti yang masih sangat penasaran dengan tsunami Palu adalah Jennifer Haase, ahli geofisika dari Scripps Institution of Oceanography di La Jolla, California.

Berbeda dengan penelitian lain, Haase justru menggunakan metode yang tidak konvensional.

Haase menegaskan, "Ini adalah contoh penting dari citizen science."

Baca juga: Sesar Batui dan Balantak Picu Gempa dan Tsunami di Sulteng Hoaks

Citizen science yang dimaksud oleh Haase adalah data penelitian yang diambil langsung dari warga sekitar yang menyaksikan. Dalam hal ini, Haase mengambil data sosial media warga.

Metode ini dianggap tidak konvensional karena menggunakan sosial media sebagai sumber data. Padahal, masalah utama data semacam ini adalah validitasnya.

Alasan Metode Tak Biasa

Keputusan penggunaan metode tak biasa ini tidak diambil Haase begitu saja. Ada berbagai macam alasan yang membuatnya memilih metode tersebut sebagai bahan penelitian.

Salah satu alasannya adalah data primer yang memadai untuk studi. Ini karena Indonesia tidak memiliki banyak alat pengukur pasang surut yang bisa mengumpulkan data dari Tsunami Palu September silam.

Selain itu, kesulitan untuk mengakses lokasi bencana juga menjadi alasannya. Haase menuturkan, para peneliti harus berjuang untuk mendapatkan izin memasuki Indonesia demi bisa mempelajari dampak merusak tsunami tersebut.

Hal ini kemudian membuat Haase kemudian mencari akal untuk bisa mempelajari gelombang tinggi itu.

"Kami mulai melihat berbagai platform media sosial seperti Youtube, Twitter, Facebook, dan Instagram," ungkap Matias Carvajal, seismolog yang turut terlibat studi ini dikutip dari Nature, Kamis (16/05/2019).

Tim ini kemudian menemukan 38 video amatir dan klip dari pusat pengawasan tsunami. Mereka juga kemudian menentukan lokasi pengambilan video pada peta lalu menyinkronkannya.

Baca juga: Potensi Tsunami di Bandara Kulon Progo, Bagaimana Mitigasi yang Ideal?

Hasilnya, tim berhasil melakukan rekonstruksi bagaimana tsunami 8 bulan lalu itu bergerak melalui Teluk Palu.

Rekonstruksi itu menunjukkan bahwa gelombang tsunami terjadi begitu cepat, hanya beberapa menit setelah guncangan gempa bumi. Selanjutnya, gelombang secara signifikan datang berturut-turut dalam waktu satu hingga 2 menit.

Carvajal menyebut, ini menunjukkan bahwa sumber (tsunami) itu dekat dengan pantai. Dengan kata lain, itu merupakan indikasi adanya longsoran dasar laut.

Hasil ini kemudian dipublikasikan oleh tim dalam jurnal Geophysical Research Letters1.

Tanggapan Ahli Indonesia

Kompas.com meminta pendapat dari ahli tsunami Badan Pengkasian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko untuk menanggapi metode yang digunakan oleh Haase dan tim.

Menurut Widjo, metode tak konvensional dengan media sosial merupakan khazanah baru yang bisa dipertimbangkan dalam penelitian. Namun, yang perlu diperhatikan adalah validitas data yang digunakan.

"(Data) itu kan berupa video ya. Saya kira dia menelurusi video itu diambilnya di mana kemudian dicocokkan lokasi dan waktu," ungkap Widjo melalui sambungan telepon.

"Jadi yang dicocokkan lokasi dan waktu," tegasnya.

Dia menyebut, dengan begitu, data yang diambil dari sosial media bisa digunakan dalam penelitian.

"Saya kira tidak masalah dalam konteks, kan itu videonya banyak dan yang penting menyebar. Kalau video yang diambil hanya di lingkungan tertentu bisa tidak valid," kata Widjo.

Widjo juga menuturkan bahwa peneliti Indonesia belum banyak menggunakan metode ini untuk data makalah ilmiah. Dalam kasus tsunami Palu, peneliti Indonesia lebih banyak menggunakan metode konvensional seperti survey dasar laut menggunakan kapal penelitian Baruna Jaya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Nature
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.