Salin Artikel

Peneliti Dunia Rekonstruksi Tsunami Palu Berbasis Medsos, Seberapa Valid?

KOMPAS.com - Tsunami yang menerjang Palu akibat gempa bumi di Donggala telah 8 bulan berlalu. Meski begitu, masih banyak peneliti dunia yang penasaran dengan tsunami tak biasa tersebut.

Salah satu peneliti yang masih sangat penasaran dengan tsunami Palu adalah Jennifer Haase, ahli geofisika dari Scripps Institution of Oceanography di La Jolla, California.

Berbeda dengan penelitian lain, Haase justru menggunakan metode yang tidak konvensional.

Haase menegaskan, "Ini adalah contoh penting dari citizen science."

Citizen science yang dimaksud oleh Haase adalah data penelitian yang diambil langsung dari warga sekitar yang menyaksikan. Dalam hal ini, Haase mengambil data sosial media warga.

Metode ini dianggap tidak konvensional karena menggunakan sosial media sebagai sumber data. Padahal, masalah utama data semacam ini adalah validitasnya.

Alasan Metode Tak Biasa

Keputusan penggunaan metode tak biasa ini tidak diambil Haase begitu saja. Ada berbagai macam alasan yang membuatnya memilih metode tersebut sebagai bahan penelitian.

Salah satu alasannya adalah data primer yang memadai untuk studi. Ini karena Indonesia tidak memiliki banyak alat pengukur pasang surut yang bisa mengumpulkan data dari Tsunami Palu September silam.

Selain itu, kesulitan untuk mengakses lokasi bencana juga menjadi alasannya. Haase menuturkan, para peneliti harus berjuang untuk mendapatkan izin memasuki Indonesia demi bisa mempelajari dampak merusak tsunami tersebut.

Hal ini kemudian membuat Haase kemudian mencari akal untuk bisa mempelajari gelombang tinggi itu.

"Kami mulai melihat berbagai platform media sosial seperti Youtube, Twitter, Facebook, dan Instagram," ungkap Matias Carvajal, seismolog yang turut terlibat studi ini dikutip dari Nature, Kamis (16/05/2019).

Tim ini kemudian menemukan 38 video amatir dan klip dari pusat pengawasan tsunami. Mereka juga kemudian menentukan lokasi pengambilan video pada peta lalu menyinkronkannya.

Hasilnya, tim berhasil melakukan rekonstruksi bagaimana tsunami 8 bulan lalu itu bergerak melalui Teluk Palu.

Rekonstruksi itu menunjukkan bahwa gelombang tsunami terjadi begitu cepat, hanya beberapa menit setelah guncangan gempa bumi. Selanjutnya, gelombang secara signifikan datang berturut-turut dalam waktu satu hingga 2 menit.

Carvajal menyebut, ini menunjukkan bahwa sumber (tsunami) itu dekat dengan pantai. Dengan kata lain, itu merupakan indikasi adanya longsoran dasar laut.

Hasil ini kemudian dipublikasikan oleh tim dalam jurnal Geophysical Research Letters1.

Tanggapan Ahli Indonesia

Kompas.com meminta pendapat dari ahli tsunami Badan Pengkasian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko untuk menanggapi metode yang digunakan oleh Haase dan tim.

Menurut Widjo, metode tak konvensional dengan media sosial merupakan khazanah baru yang bisa dipertimbangkan dalam penelitian. Namun, yang perlu diperhatikan adalah validitas data yang digunakan.

"(Data) itu kan berupa video ya. Saya kira dia menelurusi video itu diambilnya di mana kemudian dicocokkan lokasi dan waktu," ungkap Widjo melalui sambungan telepon.

"Jadi yang dicocokkan lokasi dan waktu," tegasnya.

Dia menyebut, dengan begitu, data yang diambil dari sosial media bisa digunakan dalam penelitian.

"Saya kira tidak masalah dalam konteks, kan itu videonya banyak dan yang penting menyebar. Kalau video yang diambil hanya di lingkungan tertentu bisa tidak valid," kata Widjo.

Widjo juga menuturkan bahwa peneliti Indonesia belum banyak menggunakan metode ini untuk data makalah ilmiah. Dalam kasus tsunami Palu, peneliti Indonesia lebih banyak menggunakan metode konvensional seperti survey dasar laut menggunakan kapal penelitian Baruna Jaya.

https://sains.kompas.com/read/2019/05/21/183300623/peneliti-dunia-rekonstruksi-tsunami-palu-berbasis-medsos-seberapa-valid-

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fosil Otak Tertua Ditemukan, Berusia 525 Juta Tahun

Fosil Otak Tertua Ditemukan, Berusia 525 Juta Tahun

Oh Begitu
Mengenal Hiu Greenland, Ikan Hiu yang Bisa Hidup hingga 400 Tahun

Mengenal Hiu Greenland, Ikan Hiu yang Bisa Hidup hingga 400 Tahun

Oh Begitu
5 Makanan Sehat untuk Menambah Berat Badan

5 Makanan Sehat untuk Menambah Berat Badan

Oh Begitu
Ikan Tuna Mengandung Merkuri, Ini Cara Aman Mengonsumsinya

Ikan Tuna Mengandung Merkuri, Ini Cara Aman Mengonsumsinya

Oh Begitu
Mengapa Piranha Memiliki Gigi yang Sangat Tajam?

Mengapa Piranha Memiliki Gigi yang Sangat Tajam?

Oh Begitu
4 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan bagi Wanita

4 Cara Efektif Menurunkan Berat Badan bagi Wanita

Oh Begitu
Apa Makanan Ikan Piranha?

Apa Makanan Ikan Piranha?

Oh Begitu
Penyebab Terbentuknya Pelangi Merah

Penyebab Terbentuknya Pelangi Merah

Fenomena
Di Mana Sel Sperma Diproduksi?

Di Mana Sel Sperma Diproduksi?

Kita
Cara Mencegah Resistensi Antimikroba dalam Perawatan Luka

Cara Mencegah Resistensi Antimikroba dalam Perawatan Luka

Oh Begitu
Kandungan Susu Murni, Bisa untuk Menambah Berat Badan

Kandungan Susu Murni, Bisa untuk Menambah Berat Badan

Oh Begitu
5 Ikan Hiu Tercepat di Dunia

5 Ikan Hiu Tercepat di Dunia

Oh Begitu
Kencing Berbusa pada Anak, Apakah Berbahaya?

Kencing Berbusa pada Anak, Apakah Berbahaya?

Oh Begitu
3 Manfaat Ikan Tuna Kalengan untuk Kesehatan

3 Manfaat Ikan Tuna Kalengan untuk Kesehatan

Oh Begitu
Media Sosial Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Media Sosial Berdampak Buruk pada Kesehatan Mental, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Kita
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.