Cari Solusi Pencegahan Kanker, Ilmuwan Pelajari DNA Paus

Kompas.com - 15/05/2019, 13:03 WIB
Paus punggung bungkuk Whit WellesPaus punggung bungkuk

KOMPAS.com – Kanker merupakan penyakit menakutkan yang sering kali muncul tiba- tiba, dengan potensi kematian yang tinggi. Hal ini mendorong para ilmuwan untuk terus mempelajari mekanisme kemunculan kanker, termasuk belajar dari hewan seperti paus.

Selama ini, diketahui bahwa usia dan berat badan merupakan faktor risiko dalam perkembangan sel kanker. Artinya, semakin tua dan besar ukuran tubuh suatu organisme, maka semakin berisiko untuk terkena kanker.

Namun, tidak demikian halnya pada paus. Paus justru memiliki risiko kanker yang relatif kecil, begitu pula pada gajah dan burung. Inilah yang mendorong para ilmuwan mempelajari mekanisme di balik rahasia tersebut.

Tim gabungan peneliti dari Nothern Arizona University, Arizona State University, University of Groningen, dan beberapa institusi lain mempelajari potensi mekanisme penekan kanker pada cetacean, kelompok mamalia yang mencakup paus dan lumba-lumba.

Baca juga: Pusat Kanker Terbesar di Bali Dibangun, Beroperasi Mulai 2020

Studi yang dipublikasikan di jurnal Molecular Biology and Evolution menemukan, alam telah mengalahkan kanker beberapa kali pada kelompok organisme yang berbeda.

Informasi tersebut kemudian digunakan ilmuwan untuk membantu menemukan pencegahan kanker pada manusia, seperti mengembangkan protein paus yang dapat menghentikan proliferasi sel untuk menciptakan obat anti tumor.

"Tujuan kami bukan hanya untuk mencari tahu bagaimana alam melawan kanker, namun juga untuk memberikan perspektif baru bagi publik mengenai kanker," ujar Marc Tollis, peneliti yang mengepalai studi ini, dilansir dari Phys.org, Kamis (9/5/2019).

"Fakta bahwa paus dan gajah berevolusi untuk mengalahkan kanker, dan bahwa dinosaurus juga mengalaminya, memberi sugesti bahwa kanker telah lama menjadi tekanan selektif sepanjang jutaan tahun evolusi berlangsung. Harapan kami adalah hal ini dapat mengubah hubungan seseorang dengan kanker, yang dapat menjadi sangat menyakitkan dan personal," imbuhnya.

Studi ini dilakukan dengan mengoleksi sampel DNA genomik milik seekor paus punggung bungkuk. Sampel DNA lalu disekuensing untuk memperoleh sekuens genomnya, serta dilakukan pula sekuensing RNA untuk dapat menentukan lokasi gen spesifik secara presisi.

Genom (urutan keseluruhan DNA) paus tersebut kemudian dibandingkan dengan beberapa jenis paus lain, seperti paus biru, paus sperma, paus kepala busur, dan lain-lain.

Hasilnya, terungkap bahwa beberapa bagian genom paus berevolusi lebih cepat dibandingkan mamalia lain. Bagian ini mengandung gen yang mengontrol siklus sel, perbanyakan sel, dan perbaikan sel, yang sangat penting bagi fungsi sel normal. Pada sel manusia, gen ini banyak mengalami mutasi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber phys.org
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X