Kompas.com - 13/05/2019, 18:36 WIB
Burung Rallidae berleher putih di Madagaskar Francesco Veronesi/Wikimedia CommonsBurung Rallidae berleher putih di Madagaskar

KOMPAS.com – Sekitar 136.000-240.000 tahun lalu, sekelompok burung dari suku Rallidae berleher putih terbang dari Madagascar dan tiba di Aldabra yang berjarak 400 kilometer.

Tanpa adanya predator di pulau tersebut, burung-burung ini dengan segera menguasai pulau, hidup nyaman dan belakangan, kehilangan kemampuannya untuk terbang.

Namun, 136.000 tahun yang lalu, permukaan air laut tiba-tiba naik dan melahap seluruh spesies burung Rallidae yang tidak bisa terbang ini.

Pada spesies lain, cerita ini biasanya berakhir di sini. Namun, tidak dengan burung-burung ini.

Ketika permukaan air laut turun sekitar 100.000 tahun lalu karena dimulainya zaman es, pulau ini muncul kembali dan sekelompok Rallidae baru  yang juga berleher putih tiba di sana.

Baca juga: Seukuran Burung Murai, Dinosaurus Baru Ini Punya Sayap Mirip Kelelawar

Dengan karakteristik yang sama dan tekanan lingkungan yang sama, evolusi yang sama pun terjadi kembali bak deja vu. Hal ini disebut sebagai evolusi berulang.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Zoological Journal of the Linnean Society, ini mungkin adalah kasus evolusi berulang pertama, di mana genus Rallidae mengkolonisasi pulau yang sama dan mengalami evolusi serupa sehingga menjadi tidak bisa terbang.

Para peneliti menemukan hal ini setelah mempelajari fosil Rallidae yang mati sebelum banjir bandang tersebut di Smithsonian Institution National Museum of Natural History dan Natural History Museum, London.

Ketika dibandingkan dengan spesies yang ada sekarang, para peneliti menemukan banyak kemiripan. Fosil Rallidae memiliki tulang sayap yang menunjukkan tahap akhir ketidakmampuan untuk terbang, sementara pergelangan kakinya menunjukkan tanda-tanda sedang berevolusi menjadi tidak bisa terbang.

Julian Hume, peneliti utama studi, mengatakan, fosil unik ini memberikan bukti yang tidak bisa dibantah bahwa anggota dari Rallidae pernah mengolonisasi pulau ini, kemungkinan dari Madagaskar, dan menjadi tidak bisa terbang secara independep pada masing-masing kesempatan.

“Bukti fosil yang ada di sini khusus untuk Rallidae, dan menunjukkan kemampuan burung-burung ini dalam menguasai pulau yang terisolasi dan berevolusi menjadi tidak bisa terbang beberapa kali,” ujarnya lagi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Gizmodo
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tanda dan Gejala Kanker Ovarium yang Harus Dicurigai

Tanda dan Gejala Kanker Ovarium yang Harus Dicurigai

Oh Begitu
Karakteristik Hutan Mangrove yang Harus Kamu Ketahui

Karakteristik Hutan Mangrove yang Harus Kamu Ketahui

Oh Begitu
Tren Peningkatan Kasus Covid-19 di Indonesia, Apakah Akibat Omicron? Ini Kata Kemenkes

Tren Peningkatan Kasus Covid-19 di Indonesia, Apakah Akibat Omicron? Ini Kata Kemenkes

Oh Begitu
Studi Ungkap Polusi Nanoplastik Pertama Kali Terdeteksi di Kutub Bumi

Studi Ungkap Polusi Nanoplastik Pertama Kali Terdeteksi di Kutub Bumi

Fenomena
3 Tahapan Metamorfosis Tidak Sempurna

3 Tahapan Metamorfosis Tidak Sempurna

Oh Begitu
Pengertian Sabana serta Contoh Flora dan Faunanya

Pengertian Sabana serta Contoh Flora dan Faunanya

Oh Begitu
Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Gempa Talaud Hari Ini Sudah 9 Kali Susulan, BMKG Tegaskan Bukan Gempa Megathrust

Fenomena
Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.