Kompas.com - 25/04/2019, 13:51 WIB

KOMPAS.com - Ahli zoologi kembali membuktikan Indonesia memiliki kekayaan hayati berlimpah dengan temuan dua spesies burung baru di kepulauan Wakatobi, Sulawesi.

Temuan ini dilakukan oleh ahli zoologi dari Trinity College Dublin bekerja sama dengan Universias Halu Oleo (UHO) dan Operasi Wallacea.

Deskripsi kedua burung yang dinamai mata putih Wakatobi dan mata putih Wangi-wangi telah dipublikasikan di jurnal Zoologi Linnean Society yang terbit Rabu (24/4/2019).

Baca juga: Penjelajah Temukan Balon Hidup di Palung Jawa, Spesies Baru?

Kisah pencarian burung mata putih Wakatobi dan mata putih Wangi-wangi

Profesor Nicola Marples dari Trinity College, Dublin, Irlandia bersama timnya telah mempelajari keanekaragaman burung di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya sejak 1999.

Bagi mereka, Sulawesi adalah surga bagi flora dan fauna yang unik dan cantik. Sulawesi memiliki banyak sekali spesies endemik yang tidak dapat ditemukan di tempat lain karena berlokasi di parit laut dalam yang mengisolasi Sulawesi dari daratan lain, bahkan sejak zaman es ketika permukaan laut turun.

Sebelum turun langsung ke tanah Sulawesi, tim Trinity College menggandeng mitra UHO untuk membuat katalog keanekaragaman hayati unik di Sulawesi selama 20 tahun.

Mereka menggunakan pendekatan penelitian modern untuk mencari pembeda antar spesies. Hal ini melibatkan ukuran genetik, ukuran tubuh, dan suara kicauan.

Ketika tim mempelajari suara kicauan burung, mereka harus sangat berhati-hati dan cermat. Pasalnya, burung menggunakan suara merdunya untuk memikat lawan jenis sebelum kawin dan suara mereka khas.

Jika seekor burung bernyanyi tapi yang ada di sekitarnya adalah burung beda spesies, tentu mereka tidak akan saling tertarik dan kawin.

Akhirnya setelah beberapa generasi, burung dalam populasi berbeda memiliki cukup perbedaan dan bisa diklasifikasikan sebagai spesies unik.

Mengenal si Cantik mata putih Wakatobi dan mata putih Wangi-wangi

Seperti namanya, kedua spesies burung baru ini memiliki mata berwarna putih dengan pupil berwarna hitam. Kedua burung kecil itu memiliki bulu berwarna kuning terang. Jika dilihat sekilas, mungkin kita akan sulit membedakan keduanya.

Melansir phys.org, Selasa (23/4/2019), burung mata putih Wakatobi sebenarnya sudah dibahas cukup lama, ketika gagasan tentang bagaimana mendefinisikan perubahan spesies dari awal abad ke-20 sampai masa ini.

Sementara burung mata putih Wangi-wangi baru diperhatikan pada awal abad ke-21, yakni ketika Profesor Nicola Marples dan koleganya mengunjungi pulau Wangi-wangi di Sulawesi.

Marples berkata, spesies mata putih telah menyebar dan berkembang lebih cepat dibanding burung lainnya. Kondisi ini dikarenakan mereka termasuk jenis hewan yang mudah beradaptasi dan bisa memakan berbagai macam buah, bunga, hingga serangga.

Selain faktor itu, mata putih juga merupakan penjelajah pulau dan dapat ditemukan di mana saja di Sulawesi. Ini sebabnya begitu banyak spesies mata putih berbeda, populasi di pulau berbeda membuat evolusi terjadi dengan cepat.

Dengan ditemukannya dua spesies mata putih di kepulauan Wakatobi, para ahli mampu menjelaskan bagaimana evolusi terjadi.

Mata putih Wakatobi dapat ditemukan di seluruh kepulauan Wakatobi. Sementara mata putih Wangi-wangi ditemukan di pulau kecil Wangi-wangi.

Marples mencatat, karena mata putih Wangi-wangi tinggal di pulau terpencil, dia sangat rentan kehilangan habitat.

"Menemukan dua spesies baru dari genus burung yang sama di pulau yang sama adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Burung mata putih wangi-wangi adalah penemuan istimewa karena mereka tinggal di pulau kecil dan kerabat terdekatnya berjarak lebih dari 3.000 kilometer," kata Marples.

Baca juga: Bisa Berpendar dalam Gelap, Katak Spesies Baru Ditemukan di Brasil

Bagi penulis utama artikel jurnal Dr. Darren O'Connell, penemuan ini tak hanya menarik untuk menambah wawasan tentang evolusi tapi juga memiliki relevansi konservasi yang nyata.

"Dengan menyoroti spesies unik di Kepulauan Wakatobi, kami dapat membantu melindungi habitat yang tersisa di pulau-pulau, yang berada di bawah tekanan besar. Kami berharap pulau-pulau tersebut diakui sebagai Daerah Burung Endemik sehingga mereka menerima lebih banyak dukungan konservasi," tutupnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber PHYSORG


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.