Bagaimana Evolusi Wajah Manusia Selama Lebih dari 4 Juta Tahun?

Kompas.com - 22/04/2019, 19:32 WIB
Homo Erectus, yang hidup dari 1,8 juta tahun lalu disebut sebagai manusia purba pertama yang menemukan bahasa dan menggunakannya untuk berburu dan membangun kapal yang digunakan sebagai sarana transportasi menjelajah pulau-pulau terpencil Homo Erectus, yang hidup dari 1,8 juta tahun lalu disebut sebagai manusia purba pertama yang menemukan bahasa dan menggunakannya untuk berburu dan membangun kapal yang digunakan sebagai sarana transportasi menjelajah pulau-pulau terpencil


KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkap evolusi wajah manusia selama lebih dari empat juta tahun. Dalam laporannya, para ahli menyimpulkan ada faktor penting yang diabaikan dalam evolusi wajah manusia.

Laporan yang terbit di Nature Ecology and Evolution itu melacak sejarah wajah manusia saat masih menjadi hominin awal ( manusia purba) hingga menjadi Homo sapiens modern.

Ini artinya perbandingan evolusi wajah dilakukan dari spesies yang paling tua hingga paling muda, di mana memiliki rentan usia jutaan tahun dan sudah mengalami perbedaan bentang alam, iklim, dan budaya.

Seperti studi sebelumnya, tim ahli sepakat bahwa pola makan dan iklim menjadi faktor penting dalam pembentukan wajah manusia. Namun studi baru menambahkan, ada elemen lain yang selama ini diabaikan yakni kebutuhan sosial.

Baca juga: Punya Gigi Unik, Spesies Kera Purba Baru Ditemukan di Indonesia

Melansir Science Alert, Senin (22/4/2019), ahli anatomi Paul O'Higgins dari University of York bersama timnya menemukan bahwa kulit wajah, tulang, dan otot manusia modern dapat menunjukkan lebih dari 20 emosi berbeda.

Mereka mengibaratkan evolusi wajah manusia seperti topeng kayu yang lama kelamaan berubah menjadi wajah yang mudah dimanipulasi.

Evolusi wajah manusia Evolusi wajah manusia
Pada awalnya ukuran wajah manusia purba lonjong ke bawah dan lebar, namun kemudian alis mulai memisah dan di saat yang sama wajah mengecil dan semakin ramping memungkinkan emosi halus seperti pengakuan dan simpati.

Seiring berjalannya waktu, manusia bisa melakukan komunikasi non verbal yang dianggap sebagai langkah penting dalam membangun dan memelihari jejaring sosial.

"Kami berpendapat, peningkatan komunikasi sosial kemungkinan terjadi saat wajah manusia menjadi lebih kecil dan alis yang dimiliki tidak tegas," ujar salah satu penulis Rodrigo Lacruz seorang ahli biologi kraniofasial di New York University.

" Wajah seperti ini memungkinkan gerakan atau ekspresi lebih halus, dan manusia mulai bisa berkomunikasi non verbal," imbuh dia.

Menurut para ahli, komunikasi sosial perlu dimasukkan dalam teori pembentukan wajah manusia.

Pasalnya hal ini sama pentingnya seperti diet. Ketika hominin berjalan di bumi, mereka memakan makanan yang sulit dikunyah sehingga mereka butuh otot rahang besar dan hal itu membuat wajah mereka lebih lebar dan tegas.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X