Studi Ungkap Kanibalisme pada Hewan Menguntungkan Jangka Panjang

Kompas.com - 18/04/2019, 13:04 WIB
Ilustrasi kelinci CreativeNature_nlIlustrasi kelinci

KOMPAS.com – Selama ini, kita mungkin mengetahui bahwa beberapa hewan melakukan praktik kanibalisme. Namun di dunia hewan, kanibalisme tidak jarang dilakukan oleh kerabat dekat, misalnya antar saudara pada hiu, atau terhadap anak seperti pada kelinci.

Lantas, apakah ada alasan tersendiri mengapa praktik ini dilakukan?

Ternyata, kanibalisme dapat dianggap sebagai pengelolaan keturunan, dan bahkan menguntungkan dalam jangka panjang, ungkap studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Ecology and Evolution.

Studi ini menunjukkan bahwa dalam kondisi di mana kepadatan populasi mengancam keberlangsungan hidup anakan, misalnya akibat penyebaran infeksi atau kompetisi sumber daya, mengorbankan beberapa anak sehingga anakan lain dapat bertahan hidup merupakan bentuk kasih sayang orangtua.

Baca juga: Praktik Kanibalisme Purba Terbongkar, Ternyata Tujuannya adalah...

Studi ini difokuskan pada spesies yang bertelur, agar dapat memahami hubungan antara “kepadatan anakan” lewat jumlah telur dengan keuntungan kanibalisme.

“Peletakan telur secara berkelompok umum dijumpai pada beberapa jenis ikan, serangga, reptil, dan amfibi”, ujar Dr. Hope Klug, Associate Professor University of Tennessee, seperti yang dilansir dari Phys.org, Selasa (16/4/2019).

“Peletakan telur dalam jumlah banyak ini memudahkan proses perlindungan, pembersihan, dan inkubasi, tapi juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit serta kompetisi untuk makanan dan oksigen”, tuturnya.

Kepadatan anakan telah diketahui dapat memicu perilaku kanibalisme.

Baca juga: Misteri Kanibalisme, Bagaimana Bisa Manusia Makan Manusia?

Sebagai contoh, pada damselfish, pejantan memiliki potensi besar untuk memakan telur dalam kondisi oksigen rendah.

“Kasus ini menghasilkan hipotesis bahwa memakan anakan sendiri merupakan adaptasi untuk meningkatkan peluang keselamatan generasi mendatang secara keseluruhan dengan mengurangi kepadatannya”, jelas Klug.

Namun, kesimpulan ini juga mengundang pertanyaan.

Jika jumlah telur yang banyak justru mengancam keberlangsungan hidup suatu generasi secara menyeluruh, lantas mengapa telur tersebut diproduksi sedemikian banyak?

“Indukan tidak dapat selalu memprediksi lingkungannya dengan tepat”, ujar Prof. Michael Bonsall, peneliti dari University of Oxford yang juga terlibat dalam studi.

“Faktor seperti ketersediaan makanan, oksigen, keberadaan penyakit dan pemangsa, dapat berubah seketika”, jelasnya. 



Sumber phys.org
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X