Fakta Katie Bouman, Wanita di balik Foto Lubang Hitam, dan Perempuan dalam Sains

Kompas.com - 13/04/2019, 13:53 WIB
Katie Bouman, programmer wanita yang membuat algoritma penyusun citra pertama Black Hole (lubang hitam) di antariksa.Facebook.com/Katie Bouman Katie Bouman, programmer wanita yang membuat algoritma penyusun citra pertama Black Hole (lubang hitam) di antariksa.

KOMPAS.com — Sepanjang minggu ini, masyarakat global disuguhkan salah satu gambar terpenting yang pernah disaksikan umat manusia, foto dari event horizon black hole.

Kepopuleran foto ini di seantero dunia juga menjadi hal yang patut disyukuri, khususnya bagi wanita yang berkarier di bidang STEM (science, technology, engineering and mathematics) karena individu di balik alogaritma penghasil foto tersebut adalah Katherine Bouman, wanita 29 tahun dari MIT.

Dua tahun lalu, tepatnya April 2017, jaringan teloskop radio yang tersebar di berbagai belahan dunia mulai menatap angkasa. “Pandangan” mereka terfokus pada lubang hitam yang berjarak sekitar 54 juta tahun cahaya dari Bumi, tepatnya di pusat galaksi Messier 87.

Dalam kurun waktu dua tahun itu pulalah, Bouman, bersama tim Event Horizon Telescope yang terdiri dari 200 ilmuwan, bekerja tanpa henti untuk menerjemahkan informasi yang diterima oleh gabungan teleskop radio tersebut hingga menghasilkan foto lubang hitam yang kita nikmati sekarang.

Baca juga: Tanpa Perempuan Jenius Ini, Foto Lubang Hitam Mungkin Tak Pernah Ada

Meski demikian, tidak semua orang bahagia akan pujian yang disematkan kepada Bouman, dan berbagai perilaku trolling yang dilakukan oleh warganet mulai bermunculan.

Mereka menganggap bahwa Andrew Chael, anggota lain dari tim tersebutlah yang merupakan otak di balik proyek ini dan mengerjakan sebagian besar kode. Namun, media dan para “social justice warrior” menggunakan Bouman untuk mendorong agenda “sayap kiri” dan “feminis” mereka.

Tentunya, tuduhan tersebut sama sekali tidak benar.

“Gambar ini tidak hanya melibatkan satu algoritma atau satu orang," kata Bouman pada laman Facebooknya.

“Dibutuhkan talenta satu tim ilmuwan yang tersebar di seluruh dunia serta kerja keras bertahun-tahun untuk mengembangkan instrumen, pengolahan data, metode imaji, dan teknik analisis yang dibutuhkan untuk mengerjakan usaha yang tampak mustahil ini," katanya.

Chael juga membela koleganya tersebut dan mengklarifikasi bahwa ia tidak mengerjakan “850.000 baris kode” yang diatributkan kepadanya.

“Saya sangat senang Katie mendapat penghargaan atas hasil kerjanya dan bahwa ia menginspirasi banyak orang sebagai contoh dari kepemimpinan wanita di bidang STEM," ungkapnya lewat akun Twitter pribadinya.

Keberadaan wanita di bidang STEM perlu diapresiasi.

Selama ini, kehadiran mereka masih dihantui berbagai dilema, terutama karena bidang ini merupakan pekerjaan yang didominasi pria.

Keberagaman dibutuhkan dalam bidang sains. Representasi wanita yang rendah dalam bidang sains sama saja dengan hilangnya talenta, ide, serta perspektif yang potensial.  

Baca juga: Foto Pertama Lubang Hitam, Kisah di Balik Keberhasilan Mendapatkannya




Close Ads X