Di "Black Hole" Kan Gelap, Kok Bisa Dapat Foto Lubang Hitam Tanpa Cahaya?

Kompas.com - 11/04/2019, 17:30 WIB
Foto pertama lubang hitam yang didapatkan lewat observasi dengan Event Horizon Telescope (EHT)EHT Foto pertama lubang hitam yang didapatkan lewat observasi dengan Event Horizon Telescope (EHT)

KOMPAS.com - 2,5 abad sejak digagas, akhirnya para ilmuwan berhasil mendapatkan foto lubang hitam ( black hole) dan mengetahui wajahnya.

Keberhasilan ini mengundang pertanyaan publik. Salah satu pertanyaan soal lubang hitam (black hole) yang diajukan dalam konferensi pers di Brussels, Rabu (10/4/2019) adalah, "Bagaimana bisa kita memotret lubang hitam padahal tidak ada cahaya?"

Menjawab pertanyaan itu, Eeduardo Ros dari Max Planck Institute for Radioastronomy mengatakan, "Well, sebenarnya (gelombang-red) radio juga merupakan cahaya."

Ros mengungkapkan, untuk mendapatkan foto lubang hitam (black hole), tim yang terdiri dari 200-an ilmuwan menggunakan gelombang radio yang berasal dari lubang hitam berjarak 500 triliun kilometer dari Bumi, di galaksi M87.

Baca juga: Setelah 2,5 Abad, Gambar Lubang Hitam Pertama Terungkap. Ini Fotonya...

Gelombang radio dari lubang hitam (black hole) itu sampai ke bumi, persis seperti cahaya matahari sampai ke bumi dari segala arah.

Gelombang dari lubang hitam itu ditangkap oleh satu set "mata" para ilmuwan. Set mata di sini adalah 8 teleskop yang seluruh kesatuannya dinamai Event Horizon Telescope. Masing-masing perangkat teleskop ada di lokasi berbeda sedemikian sehingga jika dihubungkan satu sama lain akan seluas bumi.

"(Gelombang) Radio itu lalu kita trap di komputer kita. Lalu kita olah, kita playback. Kita kerja dengan gelombang elektromagnetik," jelasnya.

Sera Markoff, fisikawan teoretis dari University of Amsterdam, mengatakan manusia memang tidak bisa dapat foto lubang hitam (black hole) seperti memotret obyek sehari-hari.

Baca juga: Berhasil Dipotret Pertama Kali, Ini 5 Fakta Tentang Lubang Hitam

Meski demikian, manusia bisa mengetahui adanya bayangan lubang hitam (black hole) yang jatuh pada plasma. Dengan mengolah data gelombang, manusia bisa mengetahui ada tidaknya bayangan itu dan akhirnya memotret lubang hitam. "Jadi bisa dibilang yang kita foto adalah cahaya," katanya.

Butuh usaha keras untuk menghasilkan foto lubang hitam (black hole). Ros mengungkapkan, data yang ditangkap teleskop tidak bisa langsung dikirim lewat internet. "Kita harus simpan dengan hard disk yang bisa makan tempat 6 meter kubik," katanya.

Data dalam hard disk kapasitas totalnya ribuan terabit itu dianalisis di pusat data di Boston, Amerika Serikat dan Bonn, Jerman.

Baca juga: Foto Pertama Lubang Hitam, Kisah di Balik Keberhasilan Mendapatkannya

Sera mengatakan, karena teleskop masih "terbatas", maka data yang dimiliki tak bisa menghasilkan foto lubang hitam yang sempurna. Ibaratnya, ingin mengetahui wajah teman tapi foto yang hiasilkan resolusinya rendah dan beberapa bagian bolong.

Di situ, tim menggunakan alogaritma yang dikembangkan Katie Bouman, lulusan MIT yang kini meneliti di Stanford University, untuk membuat citra sempurna.

Sera menuturkan, untuk mengecek bahwa foto yang dihasilkan memang wajah lubang hitam (black hole), timnya harus mengecek berulang kali. Saat akhirnya yakin, barulah foto lubang hitam (black hole) itu dirilis ke publik. Menurutnya, foto itu mirip seperti yang dibayangkan ilmuwan selama ini.

Baca juga: Sosok Perempuan Penting di Balik Foto Pertama Lubang Hitam




Close Ads X