Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)
Himpunan Ahli Geofisika Indonesia

Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)

Tsunami Selat Sunda, Sebuah Pembelajaran untuk Mitigasi Bencana

Kompas.com - 31/03/2019, 23:04 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Kesiapsiagaan menghadapi tsunami vulkanik juga perlu disosialisasikan. Bila sebelumnya kita menjadikan guncangan gempa bumi sebagai tanda awal bahaya tsunami saat berada di pantai, maka kini kita perlu juga mengawasi informasi gunung berapi seandainya kita berada di pantai yang menghadap dekat dengan gunung berapi.

Informasi resmi status gunung berapi dapat dilihat pada media Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) – Badan Geologi.

Mitigasi tsunami merupakan upaya pendekatan yang perlu segera dilakukan. Wilayah pantai yang merupakan kawasan wisata umumnya ditempati oleh penginapan, restoran, anjungan wisata, dan juga rumah warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diharapkan dapat memberi sosialisasi kepada wilayah pantai demi pencegahan bahaya dan peningkatan kesiapsiagaan.

Dengan sosialisasi, warga akan memiliki kewaspadaan yang membuat dirinya sadar berada pada lokasi yang berpotensi bahaya tsunami dan memahami apa yang perlu dilakukan saat bahaya tersebut berpotensi akan timbul.

Mitigasi juga memerlukan infrastruktur. Pada wilayah yang rawan tsunami perlu dibangun rambu-rambu keselamatan, peta, perencanaan dan prosedur evakuasi tsunami. Infrastruktur tersebut penting dapat terlihat jelas oleh warga ataupun pengunjung.

Infrastruktur tersebut tentunya akan lebih lengkap jika sarana peringatan juga tersedia. Tidak hanya sirine tsunami, wilayah pantai juga dapat memadukan pengeras suara lain seperti speaker masjid dan kentongan sebagai alat pendukung dalam menyebarluaskan informasi.

Dengan tanggap informasi, tanggap peringatan, dan tanggap evakuasi, maka risiko tsunami dapat dikurangi.


Pelatihan dan literasi bencana

Bencana alam seringkali terlupakan jika sudah berlalu. Kejadian tsunami tidak sering terjadi, sehingga sangat mungkin bila generasi baru kurang menyadari kerawanan tsunami di wilayahnya.

Untuk merekam kejadian tersebut, literasi kebencanaan dapat ditingkatkan dengan menempatkan bahaya, dampak dan mitigasi bencana dalam bacaan publik.

Pemerintah daerah perlu mendokumentasikan sejarah kejadian bencana di wilayahnya sebagai pelestarian informasi bencana di masa lalu untuk kesiapsiagaan di masa mendatang.

Mungkin saja warga lokal mulai lupa bahwa pernah terjadi tsunami tahun 1992 di Flores, 1994 di Jawa Timur, dan 1996 di Papua Barat.

Padahal gempa bumi merupakan siklus yang akan terulang di masa mendatang dan perlu merawat ingatan agar kesiapsiagaan tetap terjaga.

Selat Sunda mengingatkan kita juga bahwa negara kita rawan bencana yang amat kompleks. Untuk itu pelatihan kesiapsiagaan juga sangat penting dilakukan agar tetap diingat dan terampil.

Tanggal 26 April diperingati sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional. Kita dapat manfaatkan momen tersebut sebagai waktu untuk melakukan pelatihan bencana yang berpotensi terjadi di masing-masing wilayah.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.