Tsunami Selat Sunda, Sebuah Pembelajaran untuk Mitigasi Bencana

Kompas.com - 31/03/2019, 23:04 WIB
Foto dirilis 3 Januari 2019, menunjukkan personel TNI kru KRI Torani 860 memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. KRI Torani 860 yang merupakan kapal perang jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) mengemban misi memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dan mengirim bantuan ke warga Pulau Sebuku pasca-bencana tsunami Selat Sunda.ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA Foto dirilis 3 Januari 2019, menunjukkan personel TNI kru KRI Torani 860 memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. KRI Torani 860 yang merupakan kapal perang jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) mengemban misi memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dan mengirim bantuan ke warga Pulau Sebuku pasca-bencana tsunami Selat Sunda.

Oleh: Admiral Musa Julius*

TANGGAL 22 Desember lalu kita dikejutkan dengan bencana tsunami yang menimpa pantai barat provinsi Banten dan selatan provinsi Lampung.

Tidak diduga, tsunami datang tanpa didahului guncangan gempa bumi. Hingga kini para ilmuwan masih menyimpulkan bahwa tsunami tersebut dikategorikan sebagai tsunami vulkanik atau dalam kata lain tsunami yang dipicu oleh aktivitas erupsi gunung Anak Krakatau di selat Sunda. 

Secara keilmuan, penyebab tersebut memang logis terjadi karena erupsi gunung berapi mampu menyebabkan badan gunung tersebut longsor ke perairan hingga menyebabkan ketidakstabilan kolom laut.

Ketidakstabilan kolom laut membangkitkan gelombang panjang yang menjalar ke segala arah, termasuk ke kawasan pantai terdekat yakni pantai barat Banten dan selatan Lampung.

Baca juga: Geliat Kehidupan Warga Lampung Selatan Pasca-tsunami Selat Sunda...

Gelombang panjang yang dibangkitkan oleh aktivitas geologis tersebut yang dikenal dengan tsunami.

Tsunami Selat Sunda tentu mengejutkan karena melanda pantai barat Banten dan selatan Lampung pada malam hari.

Kejadian tsunami akibat aktivitas vulkanik memang sangat jarang terjadi. Sejarah menuliskan bahwa tsunami yang diakibatkan erupsi gunung berapi sebelumnya terjadi pada tahun 1883, yakni tsunami akibat aktivitas gunung Krakatau.

Tsunami tahun 1883 tersebut diyakini lebih dahsyat karena menimbulkan korban jauh lebih banyak daripada tsunami yang baru saja terjadi.

Lokasi Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia menyebabkan wilayah Indonesia rawan dengan kejadian tsunami dari berbagai akibat.

Namun kejadian tsunami akibat selain gempabumi jarang terjadi karena tsunami lebih dominan timbul dari gempabumi berpusat di laut, berkekuatan magnitudo besar, dan berkedalaman dangkal.

Baca juga: Pramuka hingga Emak-emak Kumpulkan Rp 174,7 Juta untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Dalam kajian ilmu kebumian, kejadian tsunami tidak hanya dibangkitkan oleh gempa bumi, namun juga dapat dibangkitkan oleh fenomena lainnya yang mengganggu kestabilan kolom laut seperti aktivitas gunung berapi yang berada di laut, longsoran yang menuju ke laut dan jatuhnya benda-benda langit yang mengarah ke laut.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara kepada media saat meninjau lokasi terdampak tsunami di kawasan Pandeglang, Banten, Senin (24/12/2018). Berdasarkan data terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tsunami Selat Sunda yang terjadi Sabtu (22/12/2018) malam tersebut sedikitnya telah menelan 231 korban meninggal, 1.016 luka-luka dan 57 korban hilang.BIRO PERS DAN MEDIA Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara kepada media saat meninjau lokasi terdampak tsunami di kawasan Pandeglang, Banten, Senin (24/12/2018). Berdasarkan data terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tsunami Selat Sunda yang terjadi Sabtu (22/12/2018) malam tersebut sedikitnya telah menelan 231 korban meninggal, 1.016 luka-luka dan 57 korban hilang.
Pelajaran yang dapat kita petik yakni perlu mengkaji lebih giat lagi tsunami yang diakibatkan oleh bukan gempa bumi dan perlu memetakan lokasi yang rawan.

Bahaya gempa bumi dan tsunami akibat aktivitas tektonik sudah mulai dipetakan, namun selat Sunda mengajarkan kita perlu juga memetakan bahaya tsunami akibat aktivitas vulkanik.

Tidak hanya akibat gunung Anak Krakatau, namun juga gunung berapi lainnya yang juga berada di laut wilayah Indonesia.


Kesiapsiagaan menghadapi tsunami

Kesiapsiagaan menghadapi tsunami vulkanik juga perlu disosialisasikan. Bila sebelumnya kita menjadikan guncangan gempa bumi sebagai tanda awal bahaya tsunami saat berada di pantai, maka kini kita perlu juga mengawasi informasi gunung berapi seandainya kita berada di pantai yang menghadap dekat dengan gunung berapi.

Informasi resmi status gunung berapi dapat dilihat pada media Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) – Badan Geologi.

Mitigasi tsunami merupakan upaya pendekatan yang perlu segera dilakukan. Wilayah pantai yang merupakan kawasan wisata umumnya ditempati oleh penginapan, restoran, anjungan wisata, dan juga rumah warga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diharapkan dapat memberi sosialisasi kepada wilayah pantai demi pencegahan bahaya dan peningkatan kesiapsiagaan.

Dengan sosialisasi, warga akan memiliki kewaspadaan yang membuat dirinya sadar berada pada lokasi yang berpotensi bahaya tsunami dan memahami apa yang perlu dilakukan saat bahaya tersebut berpotensi akan timbul.

Mitigasi juga memerlukan infrastruktur. Pada wilayah yang rawan tsunami perlu dibangun rambu-rambu keselamatan, peta, perencanaan dan prosedur evakuasi tsunami. Infrastruktur tersebut penting dapat terlihat jelas oleh warga ataupun pengunjung.

Infrastruktur tersebut tentunya akan lebih lengkap jika sarana peringatan juga tersedia. Tidak hanya sirine tsunami, wilayah pantai juga dapat memadukan pengeras suara lain seperti speaker masjid dan kentongan sebagai alat pendukung dalam menyebarluaskan informasi.

Dengan tanggap informasi, tanggap peringatan, dan tanggap evakuasi, maka risiko tsunami dapat dikurangi.


Pelatihan dan literasi bencana

Bencana alam seringkali terlupakan jika sudah berlalu. Kejadian tsunami tidak sering terjadi, sehingga sangat mungkin bila generasi baru kurang menyadari kerawanan tsunami di wilayahnya.

Untuk merekam kejadian tersebut, literasi kebencanaan dapat ditingkatkan dengan menempatkan bahaya, dampak dan mitigasi bencana dalam bacaan publik.

Pemerintah daerah perlu mendokumentasikan sejarah kejadian bencana di wilayahnya sebagai pelestarian informasi bencana di masa lalu untuk kesiapsiagaan di masa mendatang.

Mungkin saja warga lokal mulai lupa bahwa pernah terjadi tsunami tahun 1992 di Flores, 1994 di Jawa Timur, dan 1996 di Papua Barat.

Suasana di Pasar Ikan Desa Sumberjaya, Sumur, Pandeglang, Banten, yang luluh lantak pasca-bencana tsunami, Senin (24/12/2018). Sumur pesisir merupakan salah satu daerah dengan kerusakan terparah akibat terjangan tsunami Selat Sunda.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Suasana di Pasar Ikan Desa Sumberjaya, Sumur, Pandeglang, Banten, yang luluh lantak pasca-bencana tsunami, Senin (24/12/2018). Sumur pesisir merupakan salah satu daerah dengan kerusakan terparah akibat terjangan tsunami Selat Sunda.
Padahal gempa bumi merupakan siklus yang akan terulang di masa mendatang dan perlu merawat ingatan agar kesiapsiagaan tetap terjaga.

Selat Sunda mengingatkan kita juga bahwa negara kita rawan bencana yang amat kompleks. Untuk itu pelatihan kesiapsiagaan juga sangat penting dilakukan agar tetap diingat dan terampil.

Tanggal 26 April diperingati sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional. Kita dapat manfaatkan momen tersebut sebagai waktu untuk melakukan pelatihan bencana yang berpotensi terjadi di masing-masing wilayah.


Informasi BMKG amat luas dan penting

Meteorologi Klimatologi dan Geofisika barangkali masih asing kita dengar, padahal informasi ini sangat penting dan luas perannya.

Tidak hanya untuk pencegahan dan pengurangan risiko bencana, informasi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika turut berperan dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Informasi Meteorologi menyajikan prakiraan cuaca publik, cuaca bandara, cuaca maritim, cuaca jalur mudik, juga cuaca event tertentu.

Prakiraan cuaca menyajikan prakiraan cuaca dalam 3 harian di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Cuaca maritim menyajikan informasi ketinggian gelombang laut di wilayah perairan Indonesia.

Cuaca Bandara menyajikan informasi cuaca aktual dan 4 jam ke depan bandara di Indonesia. Selain itu BMKG juga menyediakan peringatan dini cuaca di beberapa provinsi.

Informasi Klimatologi menyajikan peta iklim di wilayah Indonesia di antaranya peta Hari Tanpa Hujan, peta Prakiraan Hujan Bulanan, dan peta Analisis Hujan Bulanan.

Selain itu juga menyajikan informasi kualitas udara Partikulat Matter (PM10) di beberapa kota terutama di Sumatera dan Kalimantan serta informasi Titik Panas (GeoHotspot) untuk potensi kebakaran hutan dan lahan.

Informasi Geofisika menyajikan informasi gempabumi terkini dengan kekuatan lebih dari magnitudo 5, gempabumi dirasakan. dan peringatan dini tsunami.

BMKG juga sangat berperan dalam menjaga keselamatan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Misalnya, mendampingi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam membangun jalan tol dan bendungan di beberapa wilayah.

Atau mendampingi Kementerian Perhubungan yang membangun beberapa fasilitas seperti Bandara, Pelabuhan dan Jalan Kereta Cepat dengan mempertimbangkan potensi banjir, gempabumi dan tsunami.

*) Admiral Musa Julius, Pengamat Meteorologi dan Geofisika – BMKG, Anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia-HAGI)

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X