Sempat Disebut oleh Ma'ruf Amin, Bisakah Kolostrum Selesaikan "Stunting"?

Kompas.com - 18/03/2019, 16:31 WIB
Calon wakil presiden nomor urut 01 Maruf Amin berbicara dalam debat ketiga Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019) malam. Peserta debat ketiga kali ini adalah cawapres masing-masing paslon dengan tema yang diangkat adalah pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGCalon wakil presiden nomor urut 01 Maruf Amin berbicara dalam debat ketiga Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019) malam. Peserta debat ketiga kali ini adalah cawapres masing-masing paslon dengan tema yang diangkat adalah pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya.

KOMPAS.com - Dalam debat calon wakil presiden (cawapres) semalam, baik Ma'ruf Amin maupun Sandiaga Uno memaparkan rencana program pencegahan stunting atau pertumbuhan tidak optimal pada anak.

Cawapres 01, Ma'ruf Amin menyebut bahwa masa paling penting stunting adalah 1.000 hari pertama sejak kehamilan. Dia menyebut pencegahan stunting bisa dilakukan melalui pemberian asupan yang cukup (untuk ibu dan akan), sanitasi, air bersih, dan ASI selama dua tahun untuk anak.

Lebih lanjut, ASI yang dimaksud terutama susu yang keluar pada awal kelahiran atau kolostrum.

"Terutama sekali ketika susu ibu itu keluar pada saat melahirkan yang oleh dunia kedokteran disebut sebagai kolostrum dan di dalam fiqih disebut sebagai alluba, alluba wallabanul kharij awwalal wiladah," kata Ma'ruf.

Baca juga: Ketua IDI: Debat Putaran Ketiga Sesuai Harapan Menyoroti Stunting

Hal ini menimbulkan pertanyaan, seberapa efektif kolostrum dalam mencegah stunting pada anak?

Menurut studi yang dilakukan para peneliti Turki tahun 2007, risiko mengalami stunting meningkat pada anak yang tidak diberikan kolostrum.

"Ibu harus diberi tahu tentang manfaat pemberian ASI di layanan perawatan antenatal (sebelum kelahiran) selama kehamilan mereka dan mengajarkan praktik pemberian ASI yang tepat, termasuk pentingnya pemberian kolostrum," tulis para peneliti dalam abstrak yang dipublikasikan di The Turkish Journal of Pediatrics.

Penelitian di Ethiopia juga menunjukkan hasil serupa. Studi tahun 2016 itu menyebut uji chi-square menunjukkan bahwa pemberian kolostrum dikaitkan dengan tiga indikator anak yang kekurangan gizi (stunting, kurang berat badan dan kurus).

"Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian kolostrum dikaitkan dengan rendahnya probabilitas kurang gizi di kalangan anak-anak prasekolah," tulis mereka dalamlaporan di European Journal of Clinical and Biomedical Sciences.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menekankan pentingnya pemberian makan bayi dengan optimal untuk mencegah kurang gizi pada anak.

WHO mendefinisikan pemberian makan bayi yang optimal dimulai dari menyusui dalam waktu satu jam setelah kelahiran, menyusui secara eksklusif untuk enam bulan pertama, memulai makanan pendamping pada enam bulan setelah melahirkan, serta terus menyusui selama dua tahun.

WHO juga menyarankan agar ibu menyusui siang dan malam setidaknya 8 kali, pemberian kolostrum, tidak ada pemberian makanan pra-lakteal, tidak ada pemberian susu botol dan pemberian makanan padat, semi-padat yang responsif.

Kolostrum sendiri mengandung banyak gizi, di antaranya kadar protein yang tinggi, vitamin larut lemak, mineral, antioksidan, serta immunoglobulin.

Baca juga: Soal “Stunting”, Bisakah Diselesaikan dengan Sedekah Susu?

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X