Kendala Riset di Indonesia yang Disebut Sandiaga Mengumpulkan "Debu"

Kompas.com - 17/03/2019, 22:21 WIB
Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno berbicara dalam debat ketiga Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019) malam. Peserta debat ketiga kali ini adalah cawapres masing-masing paslon dengan tema yang diangkat adalah pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno berbicara dalam debat ketiga Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019) malam. Peserta debat ketiga kali ini adalah cawapres masing-masing paslon dengan tema yang diangkat adalah pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya.


KOMPAS.com - Dalam debat pilpres putaran ketiga, Sandiaga Uno mengatakan Indonesia memiliki banyak riset dengan hasil baik, tapi tidak digunakan dengan baik.

"Malah menumpuk dan mengumpulkan debu," ungkapnya.

Dia mengatakan, hal ini bisa diatasi bila pemerintah memberi fasilitas penelitian yang memadai di bidang sains.

Sementara itu, Ma'ruf Amin menjanjikan nantinya akan ada dana riset abadi di samping dana abadi pendidikan, dana abadi kebudayaan.

Baca juga: Beda Gagasan Maruf dan Sandiaga Majukan Dunia Riset Indonesia

Hal ini diharapkan dapat memajukan negara dan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan teknologi dan inovasi di mana riset menjadi kebutuhan utama.

Lantas, apa yang menjadi penyebab utama riset?

Berdasarkan data Kompas.com, dalam tiga tahun terakhir ada sekitar 62 ribu hasil penelitian yang didanai pemerintah salah satunya pesawat N129.

Sementara itu, Gurnadi Ridwan yang merupakan Peneliti Seknas FITRA (Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran) dalam forum grup cek fakta Kompas.com mengutip perkataan Muhammad Dimyati dari Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenrisetdikti, sepanjang lima tahun terakhir sudah ada peningkatan hasil riset di kampus, hanya saja belum diikuti oleh kualitas riset dan masih adanya ego sektoral.

"Berdasarkan data FITRA pada 2017, anggaran riset yang tersebar di Kementerian Lembaga sebesar 1,1 persen dari total anggaran. Sedangkan pada 2018 anggaran riset Rp 24,9 triliun dari total Rp 2.221,0 triliun," kata Gurnadi.

Berkaitan dengan hal tersebut, Manajer Advokasi FITRA Ervyn Kaffah berkata, salah satu problem dalam kegiatan riset di Indonesia adalah terbatasnya anggaran riset dalam anggaran negara.

Misbah Hasan Sekjen FITRA mengatakan, berdasarkan data Kemenristekdiksti 2018, publikasi ilmiah hasil riset Indonesia yang bersertifikasi Internasional berjumlah 16.528, masih di bawah Malaysia yang berjumlah 17.211.

Meski begitu, publikasi ilmiah dari Indonesia lebih tinggi dibanding Singapura yang berjumlah 12.528 dan Thailand 9.595.

Jumlah publikasi ilmiah Indonesia meningkat sangat pesat dari 5.400 menjadi 16.528 pada 2018.

Baca juga: Dokter Hadapi Keterbatasan Anggaran untuk Tingkatan Kompetensi

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X