Pesawat Antariksa NASA Temukan Molekul Air di Permukaan Bulan

Kompas.com - 11/03/2019, 19:34 WIB
Astronot berjalan di permukaan Bulansciencemag Astronot berjalan di permukaan Bulan

KOMPAS.com - Pesawat luar angkasa milik Badan Antariksa AS ( NASA), Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) baru saja membuat penemuan yang menakjubkan.

LRO baru saja menemukan molekul-molekul ait yang bergerak di sekitar sisi bulan. Temuan ini membuat keinginan NASA untuk membawa kembali astronot ke Bulan makin besar.

Hingga dekade lalu, para ilmuwan berpikir bahwa Bulan sangat gersang. Air hanya ditemukan sebagai kantong es di kawah teduh dekat kutub Bulan.

Namun, hal ini terbantah oleh temuan Lyman Alpha Mapping Project (LAMP), sebuah instrumen di atas LRO. LAMP berfungsi untuk mengukur molekul yang jarang ditemukan di Bulan tersebut.

Baca juga: Arsip Berisi 30 Juta Halaman Pengetahuan Manusia Meluncur ke Bulan

Menurut laporan yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, instrumen ini membantu peneliti mengkarakterisasi perubahan hidrasi di Bulan.

"Studi ini merupakan langkah penting dalam memajukan kisah air di Bulan dan merupakan hasil akumulasi data dari misi LRO selama bertahun-tahun," ungkap John Keller, deputi proyek LRO dikutip dari NDTV, Senin (11/03/2019).

Baru-baru ini, para ilmuwan telah mengidentifikasi air permukaan dalam populasi molekul yang terikat pada tanah bulan, atau regolith. Tetapi, jumlah dan lokasi ditemukan bervariasi berdasarkan waktu hari.

Air bulan lebih umum di garis lintang lebih tinggi. Selain itu, jumlahnya cenderung melonjak ketika permukaan Bulan memanas.

Para ilmuwan telah berhipotesis bahwa ion hidrogen dalam angin matahari mungkin menjadi sumber sebagian besar air permukaan Bulan.

Akibatnya, ketika Bulan lewat di belakang Bumi dan terlindung dari angin matahari, "keran air" pada dasarnya harus mati.

Namun, air yang diamati oleh LAMP tidak berkurang ketika Bulan dilindungi oleh Bumi.

Wilayah tersebut justru dipengaruhi oleh medan magnetnya, sehingga air menumpuk dari waktu ke waktu, alih-alih "menghujani" turun langsung dari angin matahari.

"Hasil ini membantu dalam memahami siklus air bulan dan pada akhirnya akan membantu kita belajar tentang aksesibilitas air yang dapat digunakan oleh manusia dalam misi masa depan ke Bulan," kata Amanda Hendrix, penulis utama penelitian ini.

"Air bulan berpotensi dapat digunakan oleh manusia untuk membuat bahan bakar atau untuk digunakan untuk perisai radiasi atau manajemen termal; jika bahan-bahan ini tidak perlu diluncurkan dari Bumi, yang membuat misi masa depan ini lebih terjangkau," tambah ilmuwan senior di Planetary Science Institute tersebut.

Baca juga: Sempat Menurun Awal Februari, BMKG: Hujan Meningkat Pertengahan Bulan




Close Ads X