Diet Rendah Karbohidrat Ditemukan Memperpendek Masa Hidup, kecuali...

Kompas.com - 17/08/2018, 20:07 WIB
Ilustrasi sayuran pada smithIlustrasi sayuran

KOMPAS.com – Popularitas diet rendah karbohidrat untuk menurunkan berat badan tidak bisa dibantahkan. Namun, tampaknya Anda harus berpikir ulang jika ingin mengikutinya.

Sebab, sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam Lancet Public Health menemukan bahwa pola makan ini bisa memperpendek masa hidup Anda jika pengganti karbohidrat yang dikonsumsi adalah daging dan produk susu.

Sebelumnya, sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di AS menemukan bahwa orang-orang yang mengonsumsi karbohidrat cukup (sekitar 50-55 persen dari jumlah kalori masuk) memiliki kemungkinan mortalitas lebih rendah dari mereka yang mengonsumsi karbohidrat kurang dari 40 persen kalori masuk.

Temuan ini menjadi semakin nyata dalam hasil analisis terbaru terhadap berbagai studi pola makan di seluruh dunia yang melibatkan 432.000 orang di seluruh dunia, dan hasil observasi terhadap 15.000 orang Amerika Serikat selama 25 tahun.

Baca juga: Daftar Diet Terbaik 2018: Keto Peringkat Buncit, DASH Nomor Satu

Para peneliti menggarisbahwahi bahwa tidak semua pola makan rendah karbohidrat memiliki efek yang sama.

Mereka menemukan bahwa diet rendah karbohidrat yang paling baik adalah yang mengganti karbohidrat bertepung mereka dengan banyak sayuran, minyak tanaman, dan kacang-kacangan.

Sayangnya, metode diet rendah karbohidrat yang paling populer saat ini mendorong individu untuk mendapatkan sebagian besar energi mereka dari lemak dan protein pada daging, keju, mentega, dan susu. Hal ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker.

“Temuan ini mempertemukan beberapa hal yang selama ini kontroversial. Terlalu banyak atau terlalu sedikit karbohidrat bisa berbahaya, tetapi yang paling menentukan adalah jenis lemak, protein dan karbohidrat,” ujar Professor Walter Willett, pakar epidemiologi di Harvard TH Chan School of Public Health dan salah satu penulis.

Baca juga: Diet Rendah Karbohidrat atau Rendah Lemak? Studi Bilang Sama Saja

Dr Sara Seidelmann, seorang pakar kardiologi di Brigham and Women’s Hospital yang juga terlibat dalam penelitian, turut menambahkan, data kami menunjukkan bahwa diet rendah karbohidrat yang berbasis hewan, yang populer di Amerika Utara dan Eropa, bisa diasosiasikan dengan masa hidup yang lebih pendek dan harus dicegah.

“Sebaliknya, jika Anda tetap memilih untuk mengikuti pola makan rendah karbohidrat, maka menggantinya dengan lemak dan protein berbasis tanaman bisa meningkatkan peluang untuk penuaan yang lebih sehat dalam jangka panjang,” katanya.

Studi yang dilakukan Willett, Seidelmann, dan kolega mendapat banyak pujian dari pakar nutrisi independen karena meluruskan banyak kesalahpahaman mengenai diet “rendah karbohidrat”.

Profesor Nita Farouhi, seorang pakar epidemiologi di University of Cambridge, mengatakan, panduan pola makan saat ini (yang merekomendasikan pentingnya masukan karbohidrat sebanyak 50 persen dari kalori harian) dikritisi oleh mereka yang mendukung diet rendah karbohidrat hanya karena studi jangka pendek untuk penurunan berat badan atau kontrol metabolik pada pasien diabetes.

Dia melanjutkan, tetapi penting juga untuk mempertimbangkan efek jangka panjang dan mortalitasnya, seperti yang dilakukan oleh studi ini.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X