Kompas.com - 03/03/2019, 18:35 WIB

KOMPAS.com – Kotoran telinga atau serumen dialami oleh semua orang. Pertanyaannya, bolehkah kita membersihkan kotoran telinga sendiri, baik menggunakan cotton bud atau ear candling?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, dr Hably Warganegara, Sp.THT-KL selaku Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tengorok, Bedah Kepala dan Leher dari RS Pondok Indah-Bintaro Jaya, meluruskan beberapa kesalahpahaman terlebih dahulu.

Disampaikannya dalam paparan “Gangguan Pendengaran Anak” di Jakarta, Rabu (27/2/2019); serumen sebetulnya bukan “kotoran”.

Serumen merupakan hasil produksi kelenjar sebasea, kelenjar seruminosa, epitel kulit yang terlepas dan partikel debu yang berfungsi sebagai proteksi pendengaran kita.

Ia terletak di sepertiga bagian luar liang telinga dan dapat keluar sendiri akibat migrasi epitel dan gerak rahang, misalnya saat kita mengunyah dan menelan ludah.

Baca juga: Misteri Tubuh Manusia, Kenapa Kotoran Telinga Bentuknya Berbeda-beda?

Secara umum, ada empat jenis serumen berdasarkan bentuknya. Mereka adalah normal di mana serumen berjumlah sedikit dan bisa keluar sendiri dari telinga, kering, padat tetapi lembek dan padat tetapi keras.

Hably berkata bahwa walaupun dokter biasanya tidak menyarankan penggunaan cotton bud untuk membersihkan kotoran telinga, dia sendiri tidak mempermasalahkannya untuk orang-orang yang tipe serumennya normal.

Akan tetapi, cotton bud hanya boleh digunakan pada sepertiga bagian luar liang telinga yang berbulu. Artinya, bagian putih dari cotton bud masih harus dapat terlihat.

Pasalnya, cotton bud bisa mendorong kotoran ke dalam telinga sehingga dapat menyebabkan rasa nyeri, pendengaran berkurang, hingga radang. Lebih parah, cotton bud sendiri bisa menyebabkan lubang pada gendang jika terlalu dalam.

Baca juga: Telinga Kanan atau Telinga Kiri, Mana yang Lebih Baik dalam Mendengar?

Nah, untuk tipe serumen tidak normal yang mempengaruhi 1 di antara 10 anak Indonesia, Hably menyarankan untuk meminta dokter melakukan pembersihan setiap enam bulan sekali. Dokter akan menyemprot agar serumen keluar dari telinga. Namun bila diperlukan, bisa dilakukan juga pelunakan dahulu selama tiga hari agar anak tidak mengalami nyeri.

Terkait ear candling, Hably dengan tegas menyarankan bahwa itu sudah dilarang oleh Badan Pangan dan Obat-obatan Amerika Serikat (FDA).

Sebab, ear candling ditemukan lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Pada orang-orang dengan serumen normal, ear candling malah bisa membuat liang menjadi lebih kotor karena lilin yang berjatuhan. Selain itu, ear candling juga bisa menyebabkan iritasi pada telinga ketika diangkat dan gendang telinga bisa robek.

“Kulit normal jadi ikut terangkat, sehingga floranya berubah menjadi gampang kotor. Biasanya yang ke dokter itu yang sudah lecet, bisul dan merah (akibat ear candling),” ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
Kapan Orangtua Perlu Waspada terhadap Cerebral Palsy?

Kapan Orangtua Perlu Waspada terhadap Cerebral Palsy?

Kita
Studi Sebut Manusia Tanam Pohon Zaitun Pertama Kali 7.000 Tahun Lalu

Studi Sebut Manusia Tanam Pohon Zaitun Pertama Kali 7.000 Tahun Lalu

Oh Begitu
Contoh Sendi Pelana dan Cara Kerjanya

Contoh Sendi Pelana dan Cara Kerjanya

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.