Kompas.com - 21/02/2019, 19:02 WIB
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Bangsal Aceh, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, Riau, Senin (18/2/2019). KOMPAS.com/IDON TANJUNGKebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Bangsal Aceh, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, Riau, Senin (18/2/2019).


KOMPAS.com – Menurut pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kawasan pesisir Sumatra bagian tengah dan Kalimantan barat akan mengalami periode kemarau pertama kali. Untuk kawasan Riau, potensi kebakaran hutan dan lahan meningkat karena banyaknya titik api yang muncul.

Data BMKG menunjukkan dalam sepuluh hari pertama di bulan Februari terjadi curah hujan kategori rendah di sebagian besar Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Gorontalo, dan sebagian Sulawesi Tengah.

Peta analisis hari tanpa hujan menunjukkan beberapa tempat di pesisir timur Aceh, Sumatra Utara, dan Riau terindikasi mengalami hari kering (tanpa hujan) dengan kategori pendek dan menengah, yakni 6 sampai 20 hari.

Di Riau, hari tanpa hujan kategori panjang (21-30 hari) telah dirasakan daerah pulau Rangsang, Rangsang Pesisir, dan Tebing Tinggi.

Baca juga: Bantah Pernyataan soal Kebakaran Hutan, KLHK Luruskan Klaim Jokowi

Herizal selaku Deputi Bidang Klimatologi BMKG menjelaskan, jika selama sepuluh hari kedua pada bulan Februari 2019, wilayah subsiden atau kering mendominasi wilayah Indonesia hingga sepuluh hari terakhir di bulan Februari 2019, maka ditengarai sebagai MJO (Madden Julian Oscillation atau massa udara basah) fase kering.

Kondisi ini akan menyebabkan proses konvektif (penguapan) dan pembentukan awan hujan terhambat.

"Kondisi kurang hujan di wilayah-wilayah tersebut didukung oleh kondisi troposfer bagian tengah yang didominasi kelembaban udara yang relative rendah. Ini sesuai dengan peta prediksi spasial anomali radiasi balik matahari gelombang panjang (OLR)," kata Herizal dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Kamis (21/2/2019).

Dampak dari kemarau pertama adalah peningkatan jumlah titik api (hotspot) pada dua pekan terakhir ini di berapa wilayah.

Sebagaimana terpantau oleh BMKG, daerah yang cukup signifikan memiliki titik api ada di Riau dengan 80 titik. Jumlah ini meningkat drastis dibanding pekan sebelumnya yang hanya 24 titik. Selain Riau, Kalimantan Timur juga terpantau hotspot sebanyak 7 titik.

Dari pengamatan Stasiun Klimatologi Tambang, Riau, kondisi curah hujan bawah normal terdeteksi di wilayah pesisir timur telah berlangsung sejak awal Februari 2019.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.