Arif Nurdiansah
Peneliti tata kelola pemerintahan

Peneliti tata kelola pemerintahan pada lembaga Kemitraan/Partnership (www.kemitraan.or.id).

Nasib Perubahan Iklim pada Debat Capres

Kompas.com - 19/02/2019, 13:13 WIB
Warga membawa material untuk meninggikan rumah mereka dari ancaman terendam pasang air laut di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (30/7/2018). Abrasi, penurunan permukaan tanah hingga perubahan iklim membawa dampak besar terhadap persoalan pesisir di Jawa Tengah antara lain Pekalongan, Kendal, Kota Semarang dan Demak.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA (WEN)
30-07-2018 KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASAWarga membawa material untuk meninggikan rumah mereka dari ancaman terendam pasang air laut di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (30/7/2018). Abrasi, penurunan permukaan tanah hingga perubahan iklim membawa dampak besar terhadap persoalan pesisir di Jawa Tengah antara lain Pekalongan, Kendal, Kota Semarang dan Demak. KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA (WEN) 30-07-2018

Pada sisi lain, eksploitasi energi fosil juga merusak hutan dan lahan. Jika mengacu pada debat capres, baik capres 01 maupun 02 masih memandang keberadaan hutan dan lahan hanya sebatas kepentingan ekonomi, belum sama sekali memikirkan dampak ekologi.

Keberadaan lahan gambut yang mampu menyerap dan menyimpan emisi karbon yang sangat besar belum dimaknai sepenuhnya sebagai aset negara untuk menahan laju perubahan iklim.

Kebakaran dan persoalan alih fungsi lahan gambut melalui izin konsesi yang dilakukan sejak dulu belum sepenuhnya dibenahi.

Perubahan iklim juga berdampak pada sektor pangan dan perekonomian warga. Penelitian Kemitraan (2017) di 4 wilayah, intrusi air laut telah menyebabkan 30 persen dari total sawah di Kota Pekalongan tidak lagi produktif.

Puluhan hektar tambak dan perkebunan tidak lagi dapat menjadi sumber mata pencaharian, serta ribuan warga terancam penyakit dan kesulitan mengakses air bersih sebagai dampak dari banjir rob yang menggenangi rumah di 7 kelurahan.
 
Kemitraan juga menemukan isu perubahan iklim belum dipahami secara luas baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakatnya. Akibatnya, belum ada program adaptasi meski dampak perubahan iklim sudah dirasakan.

Anak muda dan perubahan

Pada tahun 2017, The Global Shapers Survey mengeluarkan hasil kajian yang melibatkan 25.000 anak muda di 186 negara di dunia. Isu perubahan iklim dan dampaknya menurut mereka menjadi persoalan utama yang harus diselesaikan.
 
Gerakan penyadaran terhadap isu perubahan iklim di kalangan anak muda dunia semakin meluas, bahkan secara khusus pertemuan negara-negara yang tergabung dalam konferensi antarpihak (conference of the parties/COP) di Katowice, Polandia, secara khusus melibatkan perwakilan anak muda dari seluruh dunia.

Pun dengan anak muda di Indonesia, seperti yang saat ini dilakukan oleh lebih dari 33 komunitas di Kota Pekalongan yang tergabung dalam gerakan Save Pekalongan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mereka aktif mendorong pemerintah, khususnya provinsi dan kota untuk menanggulangi permasalahan banjir rob, sekaligus membangun konsolidasi, menggalang dukungan dan membuka pemahaman kepada masyarakat akan bahaya dampak perubahan iklim. Salah satu caranya lewat film dokumenter dengan judul "Pekalongan 34 Cm" dan "Ada Juang di Tanah Tergenang".

Gerakan serupa juga banyak dilakukan, seperti Earth Hours, car free day, bike to work, komunitas pengguna pembangkit listrik tenaga surya atap, tenaga mikro hidro yang semakin meluas di kota-kota besar dan menjadi gaya hidup anak muda.

Data yang dilansir oleh Golongan Hutan (#Golhut) menyebut tingkat kesadaran publik terhadap isu lingkungan meningkat tajam selama dua tahun terakhir.

Berdasarkan data Change.org, terjadi peningkatan orang yang terlibat dalam petisi seputar isu lingkungan hidup, dari 118.000 orang pada 2017 menjadi 2,1 juta orang lebih pada tahun 2018.

Melihat debat capres, Minggu (17/2/2019), saatnya anak muda Indonesia lebih aktif menjadi yang terdepan dalam memperjuangkan isu perubahan iklim agar menjadi prioritas dalam pembangunan Indonesia lima tahun ke depan, siapa pun yang terpilih nantinya.

Dengan jumlah suara mencapai sekitar 84 juta, anak muda dapat menjadi penentu siapa yang akan terpilih untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan, sekaligus penentu negara akan memperhatikan isu perubahan iklim atau justru sebaliknya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.