5 Kesalahpahaman Terbesar tentang DBD dan Nyamuknya

Kompas.com - 14/02/2019, 07:05 WIB
Ilustrasi demam berdarahkenary820/shutterstock Ilustrasi demam berdarah

KOMPAS.com – Pada saat ini, DBD sedang berkembang marak di antara masyarakat Indonesia. Dari awal tahun hingga 29 Januari 2019, tercatat ada 13.683 kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia, dengan provinsi Jawa Timur yang tertinggi.

Seiring dengan hal tersebut, berbagai upaya pun dilakukan oleh masyarakat untuk memusnahkan nyamuk Aedes aegypti, menghentikan penularannya dan mengobati anggota keluarga yang terkena DBD. Namun sayangnya, banyak dari upaya ini yang menjadi tidak efektif karena kesalahpahaman akan DBD dan nyamuknya.

Berikut Kompas.com telah menghimpun lima kesalahpahaman yang paling umum berdasarkan paparan para ahli di seminar “Demam Berdarah yang Tak Kunjung Musnah, Mengapa?” yang diadakan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Baca juga: Ancaman DBD di Indonesia dan 3 Hal yang Harus Anda Ketahui

1. Nyamuk DBD suka bertelur di air kotor

Mungkin inilah kesalahpahaman terbesar masyarakat akan nyamuk Aedes aegypti. Banyak yang beranggapan bahwa nyamuk ini suka bertelur di air kotor. Alhasil, tidak sedikit masyarakat yang hanya melakukan pengasapan atau fogging di luar rumah, seperti got.

Namun, Prof dr Saleha Sungkar, DPA&E, MS, SpParK dari Departemen Parasitologi FKUI mengungkapkan bahwa nyamuk DBD justru mencari air jernih yang tidak terkena matahari langsung untuk bertelur.

Secara khusus, nyamuk Aedes aegypti akan meletakkan telurnya yang sangat lengket pada dinding vertikal yang berada sedikit di atas air. “Jadi malah enggak ada di got, kubangan, atau sungai. Dia butuhnya kontainer, seperti bak mandi, botol, dan lain-lain,” ujarnya.

Sekalinya menempel, telur ini bisa bertahan hidup tanpa air hingga enam bulan, dan akan menetas kembali ketika bertemu dengan air.

Oleh karena itu, Saleha menyarankan untuk melaksanakan 3M, yakni menutup tempat penampungan air bersih, menguras tempat penampungan air bersih, dan mendaur ulang atau memusnahkan barang-barang bekas setidaknya seminggu sekali.

Ketika menguras penampungan air, jangan lupa juga untuk menyikat dindingnya agar telur benar-benar musnah dan tidak kembali ketika bertemu air.

2. Nyamuk DBD tidak akan sampai ke tingkat gedung yang tinggi

Saleha juga menjelaskan mengenai kemampuan terbang nyamuk. Secara horizontal, nyamuk bisa terbang hingga jarak 50 sampai 100 meter. Namun bila beristirahat, namuk bisa mencapai jarak 200 meter. Secara vertikal, nyamuk bisa terbang hingga ketinggian 15 sampai 20 meter.

“Di apartemen lantai empat, biasanya lebih sedikit (nyamuknya). Tapi jangan lupa, nyamuk juga bisa terbawa (manusia) naik lift,” katanya.

Oleh sebab itu, seseorang yang tinggal di apartemen tidak boleh terlena, dan tetap harus melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) seperti 3M.

Baca juga: Tips Cegah DBD di Lingkungan Padat Penduduk dan Apartemen

3. Orang yang sudah sekali DBD akan kebal seumur hidup

Jangan salah mengira bahwa dengan terkena DBD sekali, Anda tidak akan terkena DBD lagi seumur hidup. Dijelaskan oleh Dr dr Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI, ada empat serotipe virus Dengue yang bila diurutkan berdasarkan keganasannya di Indonesia adalah DEN-3, DEN-2, DEN-1, dan DEN-4.

Kalau sudah terkena sekali, misalnya DEN-1, tubuh memang akan membuat antibodi terhadap serotipe. Namun, bukan berarti Anda akan terlindung dari DBD. Anda masih bisa terinfeksi DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

Leonard mengatakan, selama ini, saya belum pernah dapat pasien kena (DBD) empat kali. Belum dilaporkan juga (di literatur medis). Tapi kalau dari logika, kalau sudah kena empat kali enggak akan kena yang kelima.

4. Anak yang mengalami DBD harus dibungkus dengan pakaian berlapis-lapis

Bila anak mengalami DBD, tentu wajar bila orangtua merasa khawatir dan berusaha melakukan yang terbaik bagi anaknya. Namun, hati-hati. Berbagai mitos justru dapat membuat kondisi anak semakin buruk.

Salah satu yang disoroti oleh dr Mulya Rahma Karyanti, SpA(K), MSc adalah kebiasaan orangtua untuk membungkus anaknya dengan pakaian berlapis-lapis ketika demam.

Penanganan DBD pada anak yang benar adalah istirahat total, memberikan kompres air hangat, terutama pada lipat ketiak dan pangkal paha, serta membiarkan panas keluar lewat pori-pori. Nah, pemakaian baju berlapis-lapis justru membuat panas tertahan.

Karyanti menyarankan untuk memakaikan pakaian tipis pada anak yang mengalami DBD. Lalu, jangan mengompres anak dengan bumbu-bumbu dapur, seperti daun salam, karena kulit anak yang sensitif bisa alergi dan lecet.

Baca juga: Bukan Hanya Jambu Biji, 10 Tanaman Ini Juga Bisa Jadi Obat DBD

5. Pasien DBD butuh transfusi trombosit

Di tengah wabah DBD seperti ini, permintaan akan trombosit meningkat di sejumlah daerah. Namun, sebetulnya pasien DBD tidak selalu membutuhkan transfusi trombosit.

Leonard berkata bahwa masalah utama DBD adalah kebocoran plasma yang dapat menyebabkan hemokonsentrasi atau pemekatan. Sementara itu, penurunan angka trombosit hanya menunjukkan naiknya kebocoran plasma, dan baru memerlukan transfusi bila disertai pendarahan masif.

“Target kita bukan mengobati trombosit yang rendah, tetapi hematokritnya (angka pemekatan),” ujarnya.

Untuk menannganinya, Leonard menganjurkan pemberian cairan pengganti yang mengandung glukosa dan elektrolit, seperti susu, jus buah, teh manis dengan garam, dan air cucian beras.

Anjuran ini juga disetujui oleh Karyanti dan Saleha yang menambahkan bahwa efek pemberian daun pepaya, jus jambu dan angkak pada pasien DBD belum dibuktikan oleh penelitian. Menurut mereka, angka trombosit akan naik dengan sendirinya ketika DBD berhasil ditangani sehingga Anda tidak perlu berupaya menaikkan trombosit ketika terkena DBD.

Baca juga: Bukan Transfusi Trombosit, Inilah yang Dibutuhkan oleh Pasien DBD

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Fase Demam Berdarah



Close Ads X