Ancaman DBD di Indonesia dan 3 Hal yang Harus Anda Ketahui

Kompas.com - 11/02/2019, 18:08 WIB
Salah seorang pasien demam berdarah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (3/2/2016). KOMPAS/RADITYA HELABUMI Salah seorang pasien demam berdarah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (3/2/2016).

Oleh Erni Juwita Nelwan

PENYAKIT demam berdarah sedang mengancam penduduk Indonesia.

Di DKI Jakarta, demam berdarah menyerang lebih dari 800 orangsepanjang Januari 2019. Jumlah kasus tersebut merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir di Ibu Kota. Pekan lalu seorang anak berusia empat tahun di Jakarta Barat tewas setelah terkena penyakit menular ini.

Kasus demam berdarah juga terjadi di berbagai daerah seiring dengan meningkatnya intensitas hujan pada awal tahun ini. Secara nasional, sepanjang Januari, setidaknya ada 13.600 kasus demam berdarah, dengan kematian 133 orang. Jumlah kasus ini naik lebih dari dua kali lipat dibanding tahun lalu pada bulan yang sama.

Peningkatan kasus tahun ini menunjukkan Indonesia kembali menghadapi kemungkinan wabah. Indonesia telah beberapa kali mengalami kejadian luar biasa (outbreak) demam berdarah, yaitu pada 1973, 1988, 1998, 2007, dan 2010.

Infeksi virus demam berdarah merupakan salah satu virus yang paling cepat intensitas penularannya di dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 390 juta orang terinfeksi setiap tahunnya dan 3,9 juta orang diperkirakan berisiko terinfeksi. Infeksi berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit terjadi pada sekitar 500 ribu orang per tahun.

Memahami penyebab dan pola penyebaran penyakit ini akan membantu kita dalam mencegah dan mengobatinya. Artikel ini mengulas tiga hal terkait penyebab, pengobatan, dan pencegahan demam berdarah.

Bagaimana penyakit ini menular

Infeksi virus Dengue dapat menyerang segala usia mulai dari bayi sampai orang usia lanjut. Keparahan penyakit dipengaruhi oleh usia di mana kematian lebih banyak dilaporkan terjadi pada anak. Berdasarkan laporan riset, angka kematian akibat demam berdarah di Indonesia menurun dari 40% pada 1968 menjadi kurang dari 1% pada 2013.

Ada dua hal yang penting untuk dipahami mengenai demam berdarah. Pertama, penyakit ini ditularkan oleh nyamuk dari satu manusia ke manusia lain. Kedua, terdapat proses perjalanan penyakit yang melibatkan fase dan risiko yang berbeda pada perjalanannya.

Nyamuk yang menjadi vektor adalah Aedes aegypti betina, yang membawa virus dan mampu terbang sejauh maksimal 400 meter. Sekali bertelur, nyamuk betina menghasilkan sekitar 100 telur yang mampu bertahan beberapa bulan dalam cuaca apa pun.

Upaya untuk memberantas telur nyamuk ini tidak dapat dilakukan karena nyamuk biasanya meletakkan telurnya secara tersembunyi di tempat-tempat yang teduh.

Telur kemudian harus melalui fase akuatik yang dimulai saat telur terendam air, misalnya dalam kubangan air hujan atau penampung air bersih lainnya. Hal ini yang menjelaskan mengapa pada jumlah nyamuk semakin banyak pada musim hujan karena sejak telur terendam air sampai jadi nyamuk dewasa hanya membutuhkan waktu tujuh hari.

Nyamuk Aedes aegypti habitat hidupnya di sekitar manusia dan memiliki pola menggigit pada siang hari (day-bitting) dengan puncak aktivitas menggigit pada pagi hari dan sore hari. Aedes juga senang menggigit di dalam rumah. Kemampuan nyamuk untuk menggigit dan menyebarkan virus dengue dipengaruhi oleh cuaca atau suhu lingkungan.

Mengapa bisa terjadi kematian

Seseorang yang terinfeksi virus demam berdarah, tidak menunjukkan gejala pada saat awal. Fase yang dikenal sebagai masa inkubasi ini berlangsung sekitar tujuh hari. Pada masa ini virus sudah dapat menyebar melalui gigitan nyamuk dari satu orang ke orang lainnya.

Fase berikutnya ditandai adanya gejala demam. Pada saat sudah menggejala dikenal tiga fase sakit: fase demam (febril, 3-4 hari), fase kritis (4-7 hari), dan fase pemulihan selama tujuh hari juga.

Fase demam terjadi pada 3-4 hari pertama setelah ada gejala, ditandai dengan gejala demam mendadak tinggi, sakit kepala, nyeri di belakang bola mata, sakit atau linu pada otot dan tulang, mual dan muntah. Saat diobati, gejala akan mereda tetapi biasanya tidak hilang tuntas. Gejala akan perlahan membaik saat pasien memasuki fase kritis.

Fase kritis adalah fase setelah hari ke-4 sampai hari ke-7.

Saat memasuki fase kritis, pasien relatif sudah terlihat lebih baik tetapi proses infeksi masih terjadi di dalam tubuh. Pada fase ini akan terjadi perubahan ukuran pori pembuluh darah menjadi lebih besar yang menyebabkan terjadinya kebocoran pembuluh darah. Pasien dapat mengalami penurunan tekanan darah bahkan sampai mengalami syok.

Pada saat yang sama juga terjadi penurunan trombosit, yaitu sel darah yang berperan dalam proses pembekuan, yang menyebabkan risiko perdarahan pada pasien.

Pengobatan pada fase ini bersifat suportif, yakni pemberian cairan yang cukup dengan memperhitungkan kebutuhan pasien sehingga tidak terjadi kelebihan cairan dan pemantauan risiko perdarahan. Bila kedua hal tersebut tidak terpantau secara baik maka risiko kematian akan meningkat.

Fase pemulihan terjadi setelah hari ke-7. Pada fase ini, virus akan mengalami apoptosis (kematian sel) dan proses perbaikan dalam tubuh terjadi secara spontan termasuk kenaikan trombosit dan perbaikan bocornya pembuluh darah.

Pada fase ini dapat terjadi suatu keadaan yang dikenal sebagai rash penyembuhan, yaitu kemerahan di tangan dan kaki yang disertai rasa gatal. Rash penyembuhan ini tidak selalu terjadi pada pasien.

Upaya deteksi bahaya dan cara mencegah

Dalam merawat pasien, Badan Kesehatan Dunia saat ini memperkenalkan suatu pendekatan yang dikenal sebagai warning sign.

Terdapat berbagai gejala yang dapat dikenali secara dini sebelum pasien jatuh pada kondisi yang berat, diantaranya: adanya gangguan organ seperti gangguan fungsi hati yang berat, tidak sadar, adanya perdarahan secara tiba-tiba (seperti mimisan), dan penurunan kadar trombosit secara cepat.

Bila ditemui tanda-tanda tersebut, dokter perlu meningkatkan kewaspadaan dalam merawat pasien.

Upaya pencegahan demam berdarah mencakup upaya menjaga kebersihan lingkungan secara terus menerus dengan menggunakan konsep 3M Plus yang telah dikenal luas di masyarakat Indonesia.

Tiga M meliputi: menguras, menutup, dan mengubur wadah air yang mendukung siklus hidup nyamuk. Ditambah dengan upaya pencegahan seperti memakai obat nyamuk dan tidak menggantung pakaian yang bisa jadi rumah nyamuk. Upaya pemberantasan nyamuk dewasa dengan penyemprotan juga tetap perlu dilakukan.

Selain itu, vaksin demam berdarah  juga bisa menjadi pilihan, terutama pada kasus yang sesuai indikasi pemberiannya. Kita berharap angka kematian akibat demam berdarah tidak lagi menanjak.

Erni Juwita Nelwan

Associate Professor at Tropic and Infectious Disease Department, Universitas Indonesia

Artikel ini dipublikasikan atas kerja sama Kompas.com dan The Conversation Indonesia dari judul asli "Ancaman demam berdarah di Indonesia meningkat: 3 hal terkait penyebab dan pencegahannya". Isi artikel di luar tanggung jawab Kompas.com.



Close Ads X