Bukan Transfusi Trombosit, Inilah yang Dibutuhkan oleh Pasien DBD

Kompas.com - 13/02/2019, 20:34 WIB
Ilustrasi demam berdarahkenary820/shutterstock Ilustrasi demam berdarah

KOMPAS.com — Pada saat demam berdarah dengue ( DBD) sedang mewabah seperti sekarang, salah satu yang dikhawatirkan oleh masyarakat adalah trombosit yang menurun. Bahkan di Kota Yogyakarta, seperti yang dilaporkan oleh Tribunnews pada Selasa (12/2/2019), permintaan trombosit meningkat 20 persen sejak Januari 2019.

Namun, patut diketahui bahwa sebetulnya tidak semua pasien DBD membutuhkan transfusi trombosit. Dr dr Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI, bahkan mengatakan, transfusi trombosit yang tidak tepat malah akan membuat kondisi kesehatan pasien makin runyam.

“Kalau ditransfusi trombosit, takutnya malah membentuk antibodi untuk trombosit itu, malah makin ruwet masalahnya,” ujarnya dalam seminar bertajuk “Demam Berdarah yang Tak Kunjung Musnah, Mengapa?” di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Daripada transfusi trombosit, menurut Leonard, kunci dari pengobatan DBD adalah cairan pengganti. Hal ini disebabkan cara sistem kekebalan tubuh melawan DBD.

Baca juga: Bagaimana Google Trends Bisa Bantu Monitoring Demam Berdarah?

Sebetulnya, tubuh kita sudah siap untuk melawan DBD, tetapi responsnya berlebihan sehingga malah mengeluarkan zat-zat kimia ke pembuluh darah kapiler.

Respons ini bermuara pada endotel kapiler yang terdiri dari sel-sel endotel dengan celah di antaranya. Celah ini dijaga oleh dua gerbang, yakni tight junction dan adherence junction, yang hanya memperbolehkan molekul kurang dari tiga nanometer untuk lewat. Molekul-molekul ini seperti glukosa dan elektrolit.

Namun, rangsangan virus DBD membuat sel endotel kontraksi sehingga celahnya melebar dan molekul yang bisa lewat semakin besar, termasuk cairan elektrolit yang menyusun 91 persen dari plasma darah. Pada tahap yang lebih serius, sel darah merah juga bisa keluar dari celah sehingga menyebabkan munculnya bintik-bintik merah di kulit pasien DBD.

Nah ketika cairan elektrolit keluar, pembuluh darah pun mengalami pemekatan atau hemokonsentrasi. Aliran darah menjadi lebih lambat, bahkan mandek. Inilah yang disebut kebocoran plasma, masalah utama dari DBD.

“(Jadi) yang lebih tepat untuk lihat keparahan DBD itu tingkat hematokritnya, bukan trombositnya,” kata Leonard.

Penanganan utama dari kebocoran plasma adalah pemberian cairan pengganti, disertai dengan istirahat, obat penurun panas, dan memonitor kondisi pasien.

Baca juga: Ancaman DBD di Indonesia dan 3 Hal yang Harus Anda Ketahui

Dalam hal ini, Leonard menekankan kata “cairan pengganti” karena air putih biasa tidak cukup. Cairan pengganti ini harus mengandung glukosa dan elektrolit, misalnya susu, jus buah, isotonik elektrolit, teh manis dengan garam dan gula, atau cucian beras. Cairan pengganti ini diberikan kepada pasien sebanyak yang dia mampu, tanpa batasan ataupun pemaksaan.

Dalam studi yang dipublikasikan di Indian Journal of Community Medicine pada 2017, Leonard dan kolega menemukan bahwa pemberian cairan isotonik bagi pasien DBD lebih menjanjikan daripada air putih biasa.

Hal ini karena glukosa dan natrium pada cairan isotonik membawa air ketika diserap oleh usus sehingga penyerapannya lebih banyak daripada air putih biasa.

Terkait transfusi trombosit, Leonard mengatakan, yang membutuhkannya adalah pasien dengan trombosit di bawah 100.000 /µl disertai pendarahan masif, seperti mimisan yang tidak bisa berhenti dan berak darah. Bila tidak terjadi pendarahan, penanganannya bukan transfusi trombosit.

“Target kita bukan mengobati trombosit yang rendah, tetapi hematokritnya,” kata Leonard.



Close Ads X