Kompas.com - 12/02/2019, 19:34 WIB

"Rata rata gempa di situ berkekuatan kecil, tetapi sangat dangkal sehingga guncangannya sangat dirasakan oleh masyarakat," tegasnya.

Terkait kedalaman gempa ini, Daryono memperingatkan bahwa gempa dangkal bisa berpotensi merusak.

"Satu hal yang patut diwaspadai meskipun magnitudonya kecil tetapi karena kedalamnnya sangat dangkal maka dapat berpotensi merusak," tuturnya.

Sejarah Garsela

Selain yang terjadi kemarin, Daryono menjelaskan tentang sejarah gempa yang dipicu oleh sesar Garsela. Menurutnya, tahun 2017 pernah terjadi gempa bumi akibat sesar tersebut.

Baca juga: Gempa Hari Ini: 5,7 Guncang Halmahera Barat, Tak Berpotensi Tsunami

"Kami ada catatan gempa cukup signifikan di zona Sesar Garsela ini yaitu gempa yang terjadi pada hari Selasa tanggal 18 Juli 2017 pukul 12.58.15 WIB," kata Daryono.

"Gempa terjadi dengan magnitudo 3,7 dengan episenter terletak pada koordinat 7,19 LS dan 107,76 BT, tepatnya di darat pada jarak 16 km arah barat laut Kota Garut pada kedalaman 10 km," tambahnya.

Gempa pada 2017 itu juga dipicu oleh aktivitas Sesar Garsela. Guncangannya bahkan dirasakan cukup kuat di daerah Kamojang, Ibun, Kertasari, Majalaya, Pacet, Tarogong, dan Garut hingga mencapai skala intensitas IV MMI.

"Gempa ini sempat membuat kepanikan dan banyak warga berlarian ke luar rumah untuk menyelamatkan diri," kisah Daryono.

"Di Rancaekek, dan Nagreg gempa ini menimbulkan kerusakan ringan. Selain itu beberapa rumah tembok di Kecamatan Ibun dan Kertasari juga mengalami kerusakan. Kerusakan akibat gempa ini juga terjadi pada ruang bekas Control Room Kamojang 4 milik Pertamina Geothermal Energy," tambahnya.

Tak Memicu Sesar Lain

Aktifnya sesar Garsela juga menimbulkan kekhawatiran tentang sesar-sesar di sekitar wilayah tersebut. Meski begitu, Daryono menegaskan bahwa gempa yang terjadi Senin siang itu tidak memicu aktifnya sesar lain.

"Untuk gempa kemarin tampaknya tidak memicu sesar lain, meski sempat terjadi gempa susulan pada pukul 13.25.12 WIB dengan magnitudo 2,3 tetapi tidak dirasakan oleh masyarakat," tutup Daryono.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.