Kompas.com - 11/02/2019, 20:09 WIB
Gurun Sahara WikipediaGurun Sahara

KOMPAS.com - Gurun Sahara ternyata masih menyimpan misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. Sebuah buku berjudul The Archaeology of Western Sahara: A Synthesis of Fieldwork, 2002 to 2009 mengungkapkan jika ada ratusan struktur batu berusia ribuan tahun ditemukan di Sahara Barat.

Struktur tersebut terdiri dari berbagai ukuran dan bentuk. Namun arkeolog belum yakin kapan dan untuk tujuan apa batu-batu itu dibuat.

Baca juga: Peneliti Sebut Gurun Sahara Bisa Menghijau, Asal...

Antara tahun 2002 hingga 2009, para arkeolog bekerja dan melakukan penggalian di wilayah Sahara Barat.

Salah satu struktur batu yang ditemukan para penelitiCopyright Nick Brooks and Joanne Clarke Salah satu struktur batu yang ditemukan para peneliti

Mereka lantas menemukan struktur batu yang tersebar hingga 630 meter. Bentuk struktur batu yang ditemukan beragam, ada yang menyerupai bulan sabit, lingkaran, garis lurus, persegi panjang, tumpukan, dan kombinasi antara bentuk-bentuk tersebut.

Sayangnya, para arkeolog belum memastikan apa tujuan dibalik susunan batu-batu tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Beberapa teori menyebut kalau batu-batu tersebut kemungkinan dibuat untuk menandai kuburan, dan bisa jadi hipotesis tersebut benar adanya. Sebab, para peneliti sempat menemukan kuburan manusia berusia 1.500 tahun di antara beberapa situs yang digali.

Baca juga: Kali Pertama dalam 37 Tahun, Salju Turun di Gurun Sahara

Temuan ini menunjukkan jika suatu waktu, Sahara Barat merupakan tempat yang lebih basah dan dapat menopang lebih banyak kehidupan daripada saat ini. Termasuk juga, ada kemungkinan jika manusia yang tinggal di wilayah tersebut sudah memiliki pengetahuan mengenai struktur batu.

Salah satu bentuk struktur batu yang disebut dolmenCopyright Nick Brooks and Joanne Clarke Salah satu bentuk struktur batu yang disebut dolmen

Hanya saja, penelitian lebih lanjut mengenai situs ini bisa tak berjalan lancar. Masalah keamanan sepertinya akan menjadi penghambat. Pasalnya, Sahara Barat merupakan daerah rawan konflik.

"Karena sejarah konflik, penelitian arkeolog dan paleontologi di Sahara Barat sangat terbatas," tulis Joane Clarke, dosen senior di University of East Anglia seperti dikutip dari Live Science awal bulan ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.