Studi Baru: Kurang Tidur Tingkatkan Rasa Sakit

Kompas.com - 11/02/2019, 17:35 WIB
Ilustrasi tidur dengan pasangan Ilustrasi tidur dengan pasangan

KOMPAS.com - Tak bisa dipungkiri, tidur adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Kurang tidur bisa menyebabkan tidak fokus hingga mudah terserang penyakit.

Sebuah penelitian terbaru dari University of California bahkan menemukan bahwa kurang tidur bisa mengubah sirkuit otak dengan cara memperkuat rasa sakit.

Contohnya pada orang yang mengalami nyeri kronis. Ketika mereka kehilangan kemampuan untuk tidur nyenyak, umumnya rasa nyeri yang dirasakan lebih buruk.

Sayangnya, alasan mengapa kurang tidur menguatkan rasa sakit tidak sepenuhnya dipahami oleh para peneliti.

Baca juga: Tak Perlu Didebat Lagi, Ini Alasan Anda Harus Banyak Tidur Saat Sakit

Meski begitu, para ilmuwan tahu jika rasa sakit diperoleh ketika saraf mengirim ledakan ke sumsum tulang belakang dan masuk ke otak. Dari sana, jaringan daerah saraf menyala sebagai reaksi terhadap cedera.

Untuk mempelajari bagaimana tidur bisa mempengaruhi rasa sakit, para peneliti melakukan serangkaian percobaan dalam laboratorium.

Mereka menemukan bahwa satu malam kurang tidur mengurangi ambang rasa sakit seseorang lebih dari 15 persen. Tak hanya itu, hal ini juga meninggalkan sebuah ciri yang khas di pusat nyeri di otak.

Dalam percobaan terpisah, tim menentukan bahwa penyimpangan kecil dalam jumlah rata-rata tidur dari satu hari ke hari lain meramalkan tingkat rasa sakit keseluruhan yang dirasakan pada hari berikutnya.

"Apa yang menarik dari temuan ini adalah bahwa mereka akan merangsang, dan membenarkan, melakukan lebih banyak penelitian untuk mencari tahu sistem ini," kata Michael J Twery, direktur gangguan tidur dari cabang Institut Jantung, Paru dan Darah Nasional, yang tidak terlibat dalam studi baru ini.

"Begitu kita memahami bagaimana kurang tidur mengubah fungsi jalur ini, kita harus bisa mengelola rasa sakit dengan lebih efektif - semua jenis rasa sakit," imbuhnya dikutip dari The Independent, Minggu (10/02/2019).

Tim studi, yang dipimpin oleh Adam J Krause dan Matthew P Walker dari University of California, Berkeley ini meminta 25 orang dewasa datang ke lab pada dua kesempatan untuk mengukur ambang rasa sakit mereka untuk panas.

Dua pengukuran diambil dari masing-masing subjek. Satu di pagi hari setelah tidur semalaman, dan satu di pagi hari setelah begadang.

Baca juga: Benarkah Jeda Waktu antara Makan dan Tidur Pengaruhi Berat Badan?

Dua kunjungan itu terjadi setidaknya satu minggu terpisah, termasuk pengukuran dalam mesin pencitraan otak.

Subjek menilai sensasi rasa sakit karena bantalan kecil yang dipanaskan menempel pada kulit mereka, dekat pergelangan kaki.

Dengan secara bertahap menyesuaikan suhu naik dan turun, para peneliti mengidentifikasi tingkat rasa sakit yang dinilai setiap orang sebagai 10, atau "tak tertahankan", pada skala 1 hingga 10.

Menarik orang yang begadang meningkatkan sensitivitas terhadap rasa panas keesokan paginya, sebesar 15 hingga 30 persen pada skala rasa sakit.

Hasil ini dianggap tidak terduga. Meski demikian, penelitian sebelumnya telah menghasilkan temuan serupa untuk berbagai sensasi menyakitkan.

Tetapi pencitraan otak menambahkan dimensi baru, yaitu adanya lonjakan aktivitas di daerah persepsi nyeri dan menurun di daerah yang dianggap membantu mengelola atau mengurangi rasa sakit.

"Jadi, Anda memiliki dua hal yang terjadi sekaligus di sini," kata Walker, direktur Pusat Ilmu Tidur Manusia di UC Berkeley.

"Ada sensasi yang meningkat untuk rasa sakit, dan hilangnya reaksi analgesik alami. Fakta bahwa keduanya terjadi sangat mengejutkan," tambahnya.



Close Ads X