Burung Cantik Ini Berkelamin Ganda, Setengah Jantan Setengah Betina

Kompas.com - 07/02/2019, 18:03 WIB
Burung kardinal berkelamin ganda, setengah jantan dan setengah betina. Hal ini terlihat jelas dari perpaduan warna bulunya. Burung kardinal berkelamin ganda, setengah jantan dan setengah betina. Hal ini terlihat jelas dari perpaduan warna bulunya.

KOMPAS.com - Sepasang pecinta love bird tak sengaja menemukan burung kardinal utara (Cardinalis cardinalis) unik di sebuah kebun khusus burung yang tak jauh dari tempat tinggalnya di kota Erie, Pennsylvania, AS.

Burung kardinal yang mereka jumpai memiliki warna unik yang lain dari biasanya, gabungan antara merah mencolok dan cokelat muda.

Untuk diketahui, jenis kelamin burung kardinal bisa dibedakan lewat warna bulu di tubuhnya. Burung kardinal jantan memiliki corak merah mencolok, sementara betinanya berwarna cokelat muda.

Dengan gabungan kedua warna itu, dapat dipastikan burung tersebut berjenis kelamin ganda, setengah jantan dan setengah betina.

Baca juga: Lahir Tanpa Vagina, Tiruan Kelamin Wanita Ini Terbuat dari Kulit Ikan

"Kami tak pernah berpikir akan menemukan hal semacam ini," kata Shirley Caldwell kepada National Geographic.

Fenomena ini sebenarnya sudah pernah didokumentasikan pada bangsa burung sejak 1920-an. Para ahli menyebutnya sebagai ginandromorfisme bilateral.

Melansir Science Alert, Kamis (7/2/2019), ginandromorfisme bilateral sejenis dengan chimerisme genetik, di mana seekor hewan memiliki lebih dari satu set DNA.

Lebih khusus, ini adalah jenis chimerism tetragametic. Dinamakan demikian karena melibatkan empat (tetra) gamet, yakni dua sperma dan dua ovum.

Ovum dibuahi secara terpisah dan mulai membelah, kemudian pada awal proses pengembangan mereka bergabung menjadi satu blastokista atau zigot.

Dengan kata lain, ini adalah perpaduan dari kembar fraternal. Prosesnya mungkin sama seperti kembar identik.

Jika salah satu telur adalah jantan dan yang satunya lagi betina, chimera yang dihasilkan bisa memiliki karakteristik seksual keduanya. Ini sebabnya, hewan yang mengalami hal semacam ini kerap dijuluki half-siders.

Selain burung, hal semacam ini juga pernah didokumntasikan pada spesies lain, misalnya lobster pada 1752, berbagai kepiting, udang air asin, semut, sejumlah burung, dan ngengat.

Bisakah manusia alami hal semacam ini?

Halaman:



Close Ads X