China Ubah Gen untuk Ciptakan 5 Monyet Kloningan dengan Gangguan Jiwa

Kompas.com - 28/01/2019, 20:34 WIB

KOMPAS.com – Masih ingatkah Anda dengan Hua Hua dan Zhong Zhong? Pada tahun lalu, kedua nama itu mencuat karena mereka merupakan monyet kloning pertama di dunia. Secara teori, teknik yang digunakan untuk “membuat” keduanya bisa menciptakan replika dalam jumlah yang tak terbatas.

Kini, para peneliti China semakin mendorong batas penggunaan teknik tersebut dengan menciptakan lima lagi kloningan dari monyet yang berbeda. Namun, monyet yang dikloning ini rupanya juga telah dimodifikasi gennya agar mengalami gangguan jiwa.

Dipaparkan dalam dua laporan di jurnal National Science Review, studi yang didanai oleh Chinese Academy of Sciences dan pemerintah Shanghai mengubah gen BMAL1 dari embrio seekor monyet menggunakan CRISPR-Cas9.

Perlu Anda ketahui, gen BMAL1 berfungsi untuk mengatur ritem sirkadian pada mamalia, termasuk monyet dan manusia.

Baca juga: Lagi, Bayi China yang Diubah Gennya akan Lahir dalam 6 Bulan

Nukleus sel dari monyet yang sudah diedit gennya tersebut kemudian ditransfer ke telur monyet yang telah dibuang sel aslinya menggunakan teknik yang disebut somatic cell nuclear transfer.

Hasilnya seperti yang ditampilkan dalam video ini adalah lima bayi monyet yang mengalami berbagai “fenotipe gangguan sirkadian”, dari kekurangan tidur, peningkatan gerakan pada malam hari, gangguan kecemasan, depresi hingga perilaku seperti skizofrenia.

Berbagai masalah etika

Secara tidak mengejutkan, apa yang telah dilakukan oleh para peneliti China ini menimbulkan banyak pertanyaan etika dari dunia ilmiah.

Di samping kondisi kelima bayi monyet itu sendiri, rupanya ada 65 induk pengganti atau surogasi yang menjalani penanaman embrio. Enam belas di antaranya berhasil mengandung, tetapi hanya lima bayi yang berhasil dilahirkan.

Diwawancarai oleh Gizmodo, pakar bioetika Carolyn Neuhaus mengatakan, bila saya adalah anggota komite penelaah etika, saya akan sangat ragu untuk menyetujui penelitian ini karena bahayanya yang luar biasa bagi hewan-hewan tersebut.

“Peneliti yang mengajukan studi ini harus memiliki respons yang sangat bagus untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang metode mereka dan manfaatnya,” katanya.

Baca juga: Ilmuwan China Berhasil Kloning Monyet, Apakah Manusia Selanjutnya?

Seakan menanggapi pertanyaan Neuhaus dan para peneliti lainnya, peneliti Hung-Chun Chang mengatakan dalam siaran pers, gangguan ritme sirkadian bisa menyebabkan banyak masalah manusia, mulai dari gangguan tidur, diabetes melitus, kanker, sampai masalah-masalah neurodegeneratif.

Monyet kami yang sudah diubah gen BMAL-1-nya bisa digunakan untuk mempelajari patogennya dan perawatan terapinya,” ujarnya seperti dilansir dari Futurism, Jumat (25/1/2019);

Peneliti Muming Poo juga menambahkan, tanpa adanya gangguan dari latar belakang genetik, uji praklinis untuk keefektifan terapi bisa dilakukan dengan jauh lebih sedikit monyet kloning yang memiliki fenotipe penyakitnya.

Sayangnya, pembelaan para peneliti China belum cukup meyakinkan. Pasalnya seperti kebanyakan studi pada hewan lainnya, belum tentu ilmu yang didapat dari studi ini bisa diaplikasikan pada manusia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Futurism
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

Fenomena
Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.