China Ubah Gen untuk Ciptakan 5 Monyet Kloningan dengan Gangguan Jiwa

Kompas.com - 28/01/2019, 20:34 WIB
Foto yang diambil pada 27 November 2018 dan dirilis pada 24 Januari 2019 oleh Chinese Academy of Sciences Institute of Neuroscience via CNS ini menunjukkan lima monyet yang telah dikloning di sebuah institusi penelitian di Shanghai.
STR / CHINESE ACADEMY OF SCIENCES / CNS / AFPSTR / CHINESE ACADEMY OF SCIENCES / CNS / AFP Foto yang diambil pada 27 November 2018 dan dirilis pada 24 Januari 2019 oleh Chinese Academy of Sciences Institute of Neuroscience via CNS ini menunjukkan lima monyet yang telah dikloning di sebuah institusi penelitian di Shanghai. STR / CHINESE ACADEMY OF SCIENCES / CNS / AFP

KOMPAS.com – Masih ingatkah Anda dengan Hua Hua dan Zhong Zhong? Pada tahun lalu, kedua nama itu mencuat karena mereka merupakan monyet kloning pertama di dunia. Secara teori, teknik yang digunakan untuk “membuat” keduanya bisa menciptakan replika dalam jumlah yang tak terbatas.

Kini, para peneliti China semakin mendorong batas penggunaan teknik tersebut dengan menciptakan lima lagi kloningan dari monyet yang berbeda. Namun, monyet yang dikloning ini rupanya juga telah dimodifikasi gennya agar mengalami gangguan jiwa.

Dipaparkan dalam dua laporan di jurnal National Science Review, studi yang didanai oleh Chinese Academy of Sciences dan pemerintah Shanghai mengubah gen BMAL1 dari embrio seekor monyet menggunakan CRISPR-Cas9.

Perlu Anda ketahui, gen BMAL1 berfungsi untuk mengatur ritem sirkadian pada mamalia, termasuk monyet dan manusia.

Baca juga: Lagi, Bayi China yang Diubah Gennya akan Lahir dalam 6 Bulan

Nukleus sel dari monyet yang sudah diedit gennya tersebut kemudian ditransfer ke telur monyet yang telah dibuang sel aslinya menggunakan teknik yang disebut somatic cell nuclear transfer.

Hasilnya seperti yang ditampilkan dalam video ini adalah lima bayi monyet yang mengalami berbagai “fenotipe gangguan sirkadian”, dari kekurangan tidur, peningkatan gerakan pada malam hari, gangguan kecemasan, depresi hingga perilaku seperti skizofrenia.

Berbagai masalah etika

Secara tidak mengejutkan, apa yang telah dilakukan oleh para peneliti China ini menimbulkan banyak pertanyaan etika dari dunia ilmiah.

Di samping kondisi kelima bayi monyet itu sendiri, rupanya ada 65 induk pengganti atau surogasi yang menjalani penanaman embrio. Enam belas di antaranya berhasil mengandung, tetapi hanya lima bayi yang berhasil dilahirkan.

Diwawancarai oleh Gizmodo, pakar bioetika Carolyn Neuhaus mengatakan, bila saya adalah anggota komite penelaah etika, saya akan sangat ragu untuk menyetujui penelitian ini karena bahayanya yang luar biasa bagi hewan-hewan tersebut.

“Peneliti yang mengajukan studi ini harus memiliki respons yang sangat bagus untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang metode mereka dan manfaatnya,” katanya.

Baca juga: Ilmuwan China Berhasil Kloning Monyet, Apakah Manusia Selanjutnya?

Seakan menanggapi pertanyaan Neuhaus dan para peneliti lainnya, peneliti Hung-Chun Chang mengatakan dalam siaran pers, gangguan ritme sirkadian bisa menyebabkan banyak masalah manusia, mulai dari gangguan tidur, diabetes melitus, kanker, sampai masalah-masalah neurodegeneratif.

Monyet kami yang sudah diubah gen BMAL-1-nya bisa digunakan untuk mempelajari patogennya dan perawatan terapinya,” ujarnya seperti dilansir dari Futurism, Jumat (25/1/2019);

Peneliti Muming Poo juga menambahkan, tanpa adanya gangguan dari latar belakang genetik, uji praklinis untuk keefektifan terapi bisa dilakukan dengan jauh lebih sedikit monyet kloning yang memiliki fenotipe penyakitnya.

Sayangnya, pembelaan para peneliti China belum cukup meyakinkan. Pasalnya seperti kebanyakan studi pada hewan lainnya, belum tentu ilmu yang didapat dari studi ini bisa diaplikasikan pada manusia.




Close Ads X