Kompas.com - 25/01/2019, 19:34 WIB
penemuan Tutankhamun bbcpenemuan Tutankhamun

KOMPAS.com - Setelah satu dekade bekerja, arkeolog akhirnya menyelesaikan restorasi makam firaun Tutankhamun. Proyek ini dilakukan oleh Getty Conservation Institute (GCI) di Los Angeles dan Kementerian Purbakala Mesir.

Mereka melakukan sejumlah pekerjaan untuk memperbaiki lukisan dinding yang menghiasi makam berusia 3.000 tahun tersebut dari goresan dan lecet.

Tim juga menambahkan beberapa fitur seperti penghalang baru dan sistem ventilasi yang akan mengurangi kerusakan situs di masa depan.

"Konservasi dan pelestarian penting dan menjadi warisan bagi masa depan," kata Zahi Hawass, ahli Mesir Kuno dalam sebuah pernyataan dikutip dari Live Science, Kamis (23/01/2019).

Baca juga: Peneliti Bagikan Resep Rahasia Pembuatan Mumi Mesir Kuno

Selain itu, konservasi dilakukan sebagai upaya pemulihan sekaligus penyelidikan terhadap bintik coklat misterius di dinding makam, yang dikhawatirkan akan tumbuh seperti jamur.

Konservator mengkonfirmasi bahwa bintik-bintik itu rupanya adalah mikroba. Tapi sudah lama mati dan belum benar-benar menyebar sejak Carter membuka makam pada tahun 1922.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sayangnya, mikroba tersebut telah masuk ke lapisan cat lukisan di dinding sehingga tidak bisa dihilangkan. Tim ini pun memilih membiarkannya karena menghilangkannya akan menyebabkan lebih banyak kerusakan.

Tutankhamun sendiri lahir pada masa Kerajaan Baru Mesir, sekitar 1342 SM.  Kadang-kadang dia dipanggil dengan julukan raja anak karena mulai memerintah pada usia 9 tahun.

Tutankhamun kemudian meninggal tiba-tiba pada usia belasan. Ahli bilang kemungkinan dia mangkat karena sakit, namun teori lain mengungkapkan jika raja muda tersebut meninggal dalam kecelakaan kereta.

Kemahsyuran makam Tut di dunia di mulai pada tahun 1922, ketika ahli Mesir asal Inggris, Howard Carter menemukan situs ini.

Dia menemukan makam dalam kondisi asli, padahal makam raja lain di Lembah para Raja telah dijarah. Rupanya makam Tutankhamun selamat berkat lumpur dan bebatuan yang menghalangi pintu masuk.

Tim Carter kemudian menghabiskan 10 tahun untuk menyelidiki serta mengeluarkan berbagai artefak yang membuat sesak dari makam. Setelah dibuka untuk umum, situs ini menjadi objek wisata utama.

Baca juga: Papirus Mesir Kuno Ungkap Praktik Medis Ribuan Tahun Lalu

Tetapi sayang, pengunjung membawa debu serta perubahan kelembaban dan karbon dioksida yang mengancam lingkungan di dalam makam. Hal ini membuktikan bahwa restorasi sangat dibutuhkan.

Kini, makam Tutankhamun masih berisi beberapa artefak asli, termasuk mumi sang raja. Peninggalan inilah yang membuat makam tersebut memang harus dilindungi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pertolongan Pertama yang Benar untuk Pasien Henti Jantung

Pertolongan Pertama yang Benar untuk Pasien Henti Jantung

Oh Begitu
3 Dosis Vaksin Covid-19 Tingkatkan Kekebalan Penerima Transplantasi Organ, Studi Jelaskan

3 Dosis Vaksin Covid-19 Tingkatkan Kekebalan Penerima Transplantasi Organ, Studi Jelaskan

Fenomena
Robot Ini Diluncurkan untuk Selidiki Kehidupan Misterius Laut Dalam

Robot Ini Diluncurkan untuk Selidiki Kehidupan Misterius Laut Dalam

Fenomena
T-rex Remaja Disebut Jadi Penyebab Punahnya Dinosaurus Ukuran Sedang

T-rex Remaja Disebut Jadi Penyebab Punahnya Dinosaurus Ukuran Sedang

Fenomena
Banyak Anak Usia 0-18 Tahun di Indonesia Tertular Covid-19, Begini Saran IDAI

Banyak Anak Usia 0-18 Tahun di Indonesia Tertular Covid-19, Begini Saran IDAI

Oh Begitu
7 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Paru-paru, Bit hingga Tomat

7 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Paru-paru, Bit hingga Tomat

Oh Begitu
Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Virus Corona Varian Delta

Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Virus Corona Varian Delta

Oh Begitu
5 Hal Penting yang Harus Diketahui tentang Covid-19 pada Anak

5 Hal Penting yang Harus Diketahui tentang Covid-19 pada Anak

Kita
7 Makanan untuk Kesehatan Jantung, Ada Sayuran hingga Ikan

7 Makanan untuk Kesehatan Jantung, Ada Sayuran hingga Ikan

Oh Begitu
Peneliti Temukan Fosil Mamalia Darat Terbesar di Dunia, Seperti Apa?

Peneliti Temukan Fosil Mamalia Darat Terbesar di Dunia, Seperti Apa?

Oh Begitu
Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia Mengkhawatirkan, Ini 5 Rekomendasi Organisasi Profesi Dokter

Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia Mengkhawatirkan, Ini 5 Rekomendasi Organisasi Profesi Dokter

Oh Begitu
Waspada Potensi Gelombang Sangat Tinggi hingga 6 Meter di Perairan Jawa Timur

Waspada Potensi Gelombang Sangat Tinggi hingga 6 Meter di Perairan Jawa Timur

Oh Begitu
4 Hal yang Harus Dilakukan Saat Keluarga Isolasi Mandiri di Rumah

4 Hal yang Harus Dilakukan Saat Keluarga Isolasi Mandiri di Rumah

Kita
Ahli Jelaskan 5 Alasan Situasi Pandemi Covid-19 di Indonesia Saat Ini Mengkhawatirkan

Ahli Jelaskan 5 Alasan Situasi Pandemi Covid-19 di Indonesia Saat Ini Mengkhawatirkan

Oh Begitu
13 Gejala Covid-19 pada Anak, Demam hingga Nafsu Makan Turun

13 Gejala Covid-19 pada Anak, Demam hingga Nafsu Makan Turun

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X